Idealisme Santri

on

Cerita ini aku tulis sebelum Ujian Akhir di kampus dilaksanakan. Tugas akhir tinggal buat laporan, praktikum membuat program tinggal presentasi, proyek animasi menunggu arahan dari klien, rasanya gabut banget hari ini. Aku putuskan untuk menulis cerita yang sudah lama kupendam.

Aku menunggu momen yang tepat untuk menulis cerita ini, menunggu semua konflik dari setiap langkah hidupku. Setahun yang lalu aku juga menulis Balas Dendam Terbaikku dimana di momen saat itu adalah perjuangan pertamaku yang sebenarnya. Hidup di luar dunia hegemoni santri.

Waktu itu aku sempat bercerita tentang susahnya masuk kampus favoritku. Seorang santri yang bandel ini tiba-tiba saja ingin hidup merantau. Katanya dengan kita hidup merantau maka rintangan dan cobaan akan menempa kesuksesan. Ternyata teori seperti itu tidak selamanya benar.

Jangankan merantau ke Surabaya, merantau ke Kota Malang saja cara berpikirku sudah berubah. Teman-temanku yang dulu rajin sholat, rajin mengaji, malah di kampus ada yang sengaja mengerjakan deadline tugas melupakan deadline sholat. Dan itu yang sering kulakukan. Parah kan?

Merantau ke Kota Malang saja sudah membuatku meninggalkan kegiatan pesantren. Apalagi jika waktu itu aku diterima di kampus ITS? Apa aku bakal hadir di Reuni Pesantren nanti tanggal 6 Mei? Rasanya akan susah.

Mati sudah idealisme-santriku jika terus-terusan larut dalam meladeni kegiatan kampus yang tak ada ujungnya. Sudah banyak tugas, ikut lomba, merintis bisnis, aktif di organisasi, malah tujuan utamaku untuk menjadi seorang santri luntur sudah.

Keputusan untuk menjadi aktifis di kampus sekaligus mengabdi di pesantren adalah amanat paling berat yang kini kurasakan. Seharusnya dengan tamatnya pelajaran Alfiyah aku sudah bisa menghapal 1002 bait. Tapi sekarang? 150 bait pun masih ragu. Seharusnya sebagai anak yang dulunya pandai matematika nilai mata kuliah Matematika Diskrit mendapatkan A. Tapi nyatanya? B saja tidak tercapai.

Aku merasa menjalani kuliah dan nyantri ini tidak totalitas. Setengah-setengah. Harapanku untuk menjadi uswatun hasanah baik di kampus maupun pesantren masih susah dicapai. Terkadang kebiasaan burukku seperti pulang hingga larut malam, ngopi sama teman-teman ngomongin pergerakan mahasiswa tapi ujung-ujungnya ternyata cari Wi-Fi, ngomongin cewek-cewek idaman, sering bangun subuh telat, mengatur itu semua saja membuatku kewalahan apalagi menjadi contoh yang baik.

Hanya satu harta berharga yang masih kujaga, menjadi sosok santri idealis!

Sejak awal, aku selalu penasaran dengan bagaimana plus minus menjadi aktifis di kampus tapi tidak lupa menyaring kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan idealisme santri.

Misalnya ketika aku bergabung dengan organisasi seni. Aku dengar dari banyak sumber, organisasi seni memang non-politik sehingga kebanyakan anggotanya pasti idealis. Setelah aku bergabung pun aku merasakan kekerabatan yang erat tanpa ada persaingan kepentingan pribadi maupun kelompok. Asas mereka adalah kekeluargaan.

Hanya satu yang membuat aku tidak betah. Cara bercandanya yang kelewatan. Maklum aku ini anak introvert yang susah diajak bercanda. Apalagi terkadang yang dibuat bahan candaan adalah apa yang  aku yakini sakral. Meskipun aku tahu itu hanya bercanda, tidak semua seniman menganut kebebasan, tapi aku punya batasan dalam membebaskan. Rasanya tidak cocok bagi penganut idealisme santri di dunia seni.

Entahlah aku masih ragu dengan pertengkaran antara seni dan agama. Padahal Walisongo melakukan penyebaran paham Islam melalui seni. Daripada ragu, mending aku non-aktif saja.

Kemudian aku justru menemukan kenyamananku di organisasi yang terbilang superaktif kegiatannya. Umumnya disebut Lembaga Semi-Otonom. Bukan seperti pada umumnya Himpunan Mahasiswa, LSO memiliki unsur non-politis, bersifat kekeluargaan dan kerjasama untuk mencapai tujuan. Karena nilai-nilai yang ditanamkan disini adalah bersifat insiatif dan peka terhadap sesama anggota. Perbedaan keyakinan tidak bisa dipungkiri, tapi disini kami saling menghormati.

Sebenarnya tidak ada banyak perbedaan antara kedua organisasi yang aku ceritakan. Hanya saja karena yang pertama aku ragu namun justru dari keraguan itu aku berterimakasih kepada organisasi tersebut. Aku malah menemukan arti seni bagi aku sendiri. Mainset umum seni tidak jauh dari kegiatan melukis, mengukir, merajut dan lain-lain padahal makna seni itu sangat luas.

Menghargai keputusan rapat adalah nilai apresiasi atas apa yang kita ungkapkan.

Berkarya dengan hati adalah nilai kreatif dalam menciptakan sesuatu.

Tidak memplagiasi adalah nilai menghargai perbedaan dan orisinalitas.

Dan ketiga nilai itu ditanamkan ketika aku mengikuti diklat di organisasi seni. Ketiga nilai itulah yang berusaha aku pegang untuk setiap langkah menjalani kehidupanku. Justru dari ketiga nilai ini saja aku sudah dipercaya dan didukung banyak pihak untuk selalu berkarya. Tidak ada kata ragu lagi dalam diriku, aku betah berada di organisasi ini.

Setelah aku menemukan kenyamananku di ranah organisasi, terkadang kenyamanan itu melupakan kegiatan yang seharusnya menjadi bekal nanti ketika meninggalkan dunia. Aku berusaha mencari-cari kegiatan yang mengingatkanku kepada sabda Rasulullah : “Bekerjalah seolah-olah kamu hidup selamanya, Beribadahlah seolah-olah kamu mati besok.”
Sebenarnya banyak sekali kegiatan-kegiatan pengajian di masjid setelah dhuhur, tapi entahlah lagi-lagi aku ragu. Bahkan jika kita mencontoh Rasulullah, apa yang beliau lakukan, ucapkan dan tetapkan pun harus diseleksi sumber kebenarannya. Apakah pembawa berita bisa dipercaya? Apakah penyampai berita independen? Pikiran aku ketika mendengarkan pengajian pun tidak jauh dari prasangka buruk.
Tapi kemudian aku ingat, kisah Rasulullah yang perangainya lembut itu tidak membedakan siapa yang mengucapkan kebenaran. Bahkan sekalipun orang itu memusuhi Rasulullah, beliau takkan memperlakukannya seperti musuh. Dijauhi, difitnah, dicaci-maki. Rasulullah sadar bahwa musuh-musuh beliau ‘belum tahu’ mana yang benar mana yang salah. Seakan-akan dalam benak beliau berkata “Sudah tahu tersesat kok malah dijauhi”.
Semenjak mengingat kembali kisah itu, kini aku berusaha untuk tidak melihat siapa yang berbicara. Jika yang disampaikan fakta dan benar adanya, akan aku hargai. Jika yang disampaikan kebohongan bahkan menjurus ke fitnah, akan aku ingatkan.
Aku sadar apa yang kutulis ini tidak mutlak benar aku lakukan. Namun setidaknya aku menyadari ketidakmampuanku ini menjadi sosok yang selalu sempurna di mata Tuhan. Beginilah cara berdakwahku, dengan menyalahkan diriku sendiri kemudian baru mengingatkan kesalahan orang lain.
Semoga dengan cerita ini, kita semua berhak mendapatkan emblem santri idealis di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Muhammad Bahauddin Alfan
Mahasiswa S1 Teknik Informatika Universitas Negeri Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s