Balas Dendam Terbaikku (Part 2)

Universitas Negeri Malang, The Learning University, adalah tempatku mencari jati diri, menginvestasikan masa depan dengan belajar, mengabdikan raga dan jiwa untuk orang-orang yang mempercayakan semua masa depan di pundakku. Siapa lagi kalau bukan untuk masyarakat. Aku sempat berpikir, diluar sana banyak calon-calon mahasiswa yang ikut mendaftar bersamaku waktu itu. Terlihat wajah-wajah optimis dari mereka. Namun sistem birokrasi pendidikan di Indonesia, yang masih belum bisa memberdayakan mereka secara rata, membuat banyak pagar-pagar pembatas antara ‘lulus tes’ dan ‘tidak lulus tes’. Terkadang, belum tentu yang ‘lulus tes’ mampu dalam bidang yang diambil, bisa jadi tes tersebut tidak sejalan dengan mata kuliah yang ada. Belum tentu pula yang ‘tidak lulus tes’ tidak mampu dalam bidangnya, bisa jadi dia tidak lulus tes karena faktor sakit atau memang tidak mampu menguasai 6 bidang tes yang memahaminya harus setahun penuh.

Pendapat itu memang pernah disampaikan oleh dosenku, yang menganggap tes masuk negeri di Indonesia belum efektif. Buktinya, pelajaran biologi dan kimia tidak diajarkan di Teknik Informatika 😀 . Tapi sudahlah, memang sulit mengurusi jutaan mahasiswa yang ingin mendaftar dengan kuota hanya dua puluh persennya.

Kembali ke topik. Pembalasan dendamku tidak berhenti sampai disini. Jika Tuhan menghendaki umurku panjang, tentu masih banyak jalan-jalan berlubang untuk aku lewati. Baru saja berjalan, aku sudah melihat lubang itu. Dimana persaingan di kelas yang cukup ketat. Ada anak yang jago di rekayasa perangkat lunak, jago di teknik komputer dan jaringan, jago di multimedia dan jago di permainan logika. Karena menurutku, keempat unsur itulah yang harus ditanam dengan baik untuk menjadi lulusan TI yang berkompeten. Sedangkan aku? Satu-satunya lulusan madrasah yang tidak punya modal apapun di keempat bidang itu. Mungkin dulu pernah ikut kompetisi SEO (Search Engine Optimizer) namun hanya mendapatkan seritfikat peserta, pernah kompetisi logika pemrograman dan desain media pembelajaran. Itu pun sudah jaman MTs dulu. Tidak pernah mendapatkan pembekalan yang selayaknya di MA.

Tapi aku punya beberapa passion yang baru-baru ini kutekuni (karena fasilitas komputer sudah tersedia) yakni editing video dan animasi sederhana. Waktu itu sedang mengedit video profil IMAGI UM (Ikatan Mahasiswa Alumni MAN Gondanglegi di UM) dan sempat heboh di kelas. “Awakmu iku genahe lulusan endi seh Din? SMK endi? (Kamu sebenarnya lulusan darimana Din? SMK endi?) Padahal aku hanya belajar autodidak dari YouTube (thanks for everything YouTube 😀 ). Lalu sempat heboh lagi ketika aku membuat presentasi animasi dari PowerPoint. Sebenarnya ada sih temanku yang sudah bisa, tapi karena aku memberi sentuhan audio-video (sehingga ketika presentasi aku cukup ‘play the video and let the video presents about my subject’). “Aku gak telaten Din, ngrekami suaraku sitok-sitok digawe presentasi (Aku gak bakalan betah merekam satu persatu suaraku satu persatu untuk presentasi.)”

Ternyata benar apa kata Cak Lontong, untuk menjadi sosok yang disorot cukup jadilah orang aneh. Jadilah anak desa, anak madrasah, namun bisa menciptakan sedikit inovasi untuk memancing kepercayaan orang lain.

Tapi aku tak berpuas diri sampai disini, masih banyak subjek di perkuliahan yang harus aku kuasai seperti elektronika yang menguji ketelatenanku dalam bidang hardware. Dulu di MTs sempat diajarkan memasang kabel LAN setebal 1 mm dan harus mencocokkan tujuh warna kabel berada di tujuh socket yang tepat. I totally failed! I hate small cables!
Yap, aku lemah di hardware. Telaten di software, namun belepotan di hardware. Padahal peluang kerja yang paling banyak ada di pemasangan jaringan yang harus telaten hardwarenya. *said my lecturer

Eeeeiitss, membahas masalah peluang kerja, helloo I’m not dedicated myself for money here. Sebelumnya sudah kuutarakan apa tujuanku ngampus di UM ini NOT FOR MONEY or JOB. Aku menginvestasikan 4 tahun yang berharga ini JUST FOR KNOWLEDGE. Aku juga sempat menyatakannya di part 1 : Setiap ada pesanan desain dari teman-teman aku selalu kerjakan, meski tidak ada UPAH pun aku mau yang penting ini sebagai ajang LATIHAN untuk menjadi desainer seperti kakak tingkatku. Itu bukan dramatisir kalimat biar tulisan ini tertarik untuk dibaca, namun itulah kenyataannya. Coba tanyakan beberapa anak yang sudah memercayakan desainku, meski dengan puluhan kritikan pun tak masalah karena kritik bagiku lebih mahal daripada uang. 🙂

Dibalik sisi perkuliahan, aku juga membalaskan dendamku untuk dunia pesantren. Kata siapa santri hanya bisa mengaji? Bukan berarti kini ketika aku pasif di pesantren hatiku tidak untuk pesantren. Justru dari pesantrenlah aku bisa mencurahkan segala permasalahan ini dengan benar. Ketika pesantren mulai serius, bisa jadi diskusi perbandingan agama terjadi. Intinya bukan hanya berdakwah untuk masyarakat muslim, namun untuk non-muslim pun juga harus. Sempat terlintas di pikiranku, aku punya mimpi mengajak non-muslim mengetahui Islam agar mereka belajar Islam bukan dengan kebencian yang selama ini digembor-gemborkan dengan istilah TERORIS, namun dengan kasih sayang yang telah dicontohkan oleh Rasulullah S.A.W.

Impianku terwujud! Aku punya seorang teman yang agnostik (percaya Tuhan namun tidak mempercayai agama). Kebiasaanya yang mengikuti sholat di masjid sempat membuatku bingung, padahal dulu dia lulusan SMA Kristen. Sempat aku berdiskusi kecil dengannya dan ia terlihat lebih banyak setuju dengan pendapatku. Sebenarnya aku tahu betul beberapa kali dia setuju dengan kebenaran Islam, namun dia masih belum bisa memercayainya. Aku berharap Tuhan memberikannya petunjuk tentang kebenaran yang sedang ia cari.

Sempat aku mengatakan padanya, “Lebih baik kamu percaya Tuhan tapi tidak percaya agama daripada percaya agama tapi tidak percaya Tuhan.”

“Loh, maksudnya?”

“Seseorang yang sudah memercayai Tuhan itu sedang berproses mencari kebenaran, meskipun dia sedang tidak beragama. Daripada beragama tetapi merasa berkuasa seperti Tuhan, membunuh orang, mengebom dengan dalih JIHAD dan itu sama saja menistakan Tuhan bagiku. Aku harap kau belajar lebih karena aku terinspirasi Cak Nun yang selalu menyebarkan pesan damai dalam setiap pengajiannya. Suatu saat jika ada pengajian Cak Nun hadiri, sangat cocok sekali untukmu.”

Ia terlihat setuju dan aku seakan melihat auranya yang suatu saat mungkin Tuhan akan meridhoinya. Dari cerita ini, aku hanya bisa berharap kepada Tuhan, tak ada yang lebih berkuasa selain-Nya.

Dari keseluruhan cerita ini pula, aku hanya bisa berharap seluruh balas dendam terbaikku ini bukan hanya sekedar bahasa satir atau sarkas. Terkadang gaya bahasaku memang satir atau sarkas, namun let’s don’t judge a book by its cover. Think twice in every problems, think with your brain and with your heart 🙂 .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s