Balas Dendam Terbaikku (Part 1)

15043438_1359191037449163_1331163996010577920_n“Akhirnya, seluruh tugas akhirku telah selesai. Besok adalah UAS terakhir di semester ini.” Itulah yang kurasakan sebelum aku menulis (atau lebih tepatnya mengetik) cerita ini. Setelah sebelumnya dibebani banyak tugas menumpuk, kini aku mencoba mencurahkan keresahan yang selama ini mengendap selama satu semester ini.

Kunyalakan komputer baruku, kubuka Microsoft Word, mengalirlah pulsa demi pulsa dari keyboard yang kemudian diproses oleh CPU dan mengeluarkan sebuah output mahakarya : Balas Dendam Terbaikku.

Masa transisi menuju dewasa memang sulit. Dilanda kegalauan, dilanda puluhan masalah yang tak kunjung selesai. Masa itu adalah masa dimana aku pertama kali merasakan persaingan masuk perguruan tinggi.

Sebelumnya mulai dari MI, MTs, Pondok Pesantren sampai MA belum pernah rasanya dikecewakan oleh pilihan yang sebenarnya kudambakan. Dari MI misalnya, tes masuk pun juga tidak terlalu sulit karena guru MI mengenal betul keluarga kami yang reputasinya bagus. Tidak ada masalah. Masuk MTs pun begitu, nilai tes psikotesku terbaik ketiga (dulu aku IQ-nya 130 loh, serius. Sekarang mungkin sudah turun) dan aku pun masuk jurusan Rintisan Madrasah Bertaraf Internasional. Tidak ada masalah. Masuk pondok pesantren pun begitu, dikenal sebagai ponakan dari santri yang paling garang dulunya sehingga disungkani, tidak begitu banyak cobaan yang berkesan. Tidak ada masalah. Masuk MA apalagi, terlalu dimanjakan karena selain dari pondok pesantren juga karena lulusan RMBI di MTs. Tidak ada masalah.

Begitu masuk di dunia perkuliahan, tidak ada yang sesuai ekspektasiku.

Dulu, aku berlomba-lomba untuk menjadi desainer seperti kakak tingkatku yang sekarang menjadi mahasiswa ITB jurusan desain. Beberapa kompetisi desain pun aku ikuti, meski tidak sesukses kakak tingkatku. Namun aku tidak menyerah belajar darinya dan dari sumber-sumber pembelajaran desain lainnya. Setiap ada pesanan desain dari teman-teman aku selalu kerjakan, meski tidak ada upah pun aku mau yang penting ini sebagai ajang latihan untuk menjadi desainer seperti kakak tingkatku.

Ketika pendaftaran jalur undangan, aku mencoba membuat portofolio gambar sketsa sebagai persyaratan masuk jalur undangan ke ITS. Karena orang tuaku belum meridhoi aku pergi jauh, maka aku ambil yang terdekat di Surabaya. Namun nyatanya, oleh kakak tingkatku masih banyak kritikan dari gambar tersebut sehingga aku sedikit ragu apakah aku bisa masuk jalur undangan itu. Apalagi minim dukungan dari pihak sekolah, tidak seperti kakak tingkatku yang memang sejak di madrasah menjadi mitra desainer.

Keraguanku pun terjawab, aku tidak lolos jalur itu. Orangtuaku tetap memberi semangat agar aku mengikuti jalur tes negeri masuk ITS juga, namun tidak mengambil desain. Aku mengambil jurusan teknik multimedia karena itu juga passionku sejak dulu, yang belum terwujud karena aku harus melanjutkan studi pesantrenku yang tidak memungkinkan untuk lanjut ke SMK.

Aku pun sudah membuat janji untuk masuk bersama teman sebayaku dulu di MTs, yang juga ingin masuk jurusan itu. Dia teman akrab sekaligus teman satu hobi. Meskipun persaingan tahun lalu di jurusan itu ketat, yakni perbandingan peminat dan kuota masuk adalah 800:15, aku tidak kemudian minder. Justru aku belajar keras untuk lolos tes itu setiap hari bersama kakakku yang dulu juga diterima di jalur tes negeri itu. Siang malam aku hanya bergelut dengan angka dan rumus demi ekspektasiku.

Lagi-lagi ekspektasiku tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Aku ingat, waktu itu di TELKOM hujan lebat. Aku menunggu pengumuman dari siang hingga sore karena server sedang lemot-lemotnya. Aku sudah berharap penuh agar tidak lagi mengikuti tes mandiri dan bisa berhemat untuk kuliah nanti. Namun ketika server sudah kembali normal, aku berkaca-kaca diantara suasana hujan itu. Aku melihat tulisan merah itu dengan jelas. MOHON MAAF ANDA BELUM LOLOS JALUR TES NEGERI. Lemas rasanya melihat tulisan itu. Telepon dari ibu pun tidak aku angkat. Aku malu. Sudah habis tenaga, sudah habis pikiran ternyata semua kenyataan ini… ah sudahlah.

Kedatanganku di rumah disambut dengan iba, melihat sorot mataku seperti tiada harapan (aku tidak mendramatisir, ini kejadian nyata). Ibu dan bapak sepakat untuk tetap mengikutkanku tes mandiri, meskipun itu mahal. Demi pendidikan, sungguh orangtuaku tidak pernah merasa ‘miskin’. Bayangkan, uang 27 juta darimana untuk membayar kuliah? Ah, aku tak mau tahu. Yang penting selama orangtua mendoakan, aku akan tetap berusaha.

Minggu berikutnya aku belajar untuk mengikuti rangkaian tes mandiri di ITS dan UM. Ternyata, tes mandiri di ITS mengambil nilai dari tes negeri kemarin. Wah, ini sungguh peluang yang sulit terlihat. Aku pun memilih yang sekiranya sepi peminat waktu itu, jurusan Matematika (yang sebenarnya aku sudah muak dengan rumus-rumus matematika). Mataku sudah mulai buta, aku tidak melihat passionku, aku hanya ambisius ingin masuk ITS untuk ‘balas dendam’ atas segala kenyataan yang pahit ini. Untuk jaga-jaga bila ekspektasiku di ITS gagal lagi, aku juga mengambil tes mandiri di UM jurusan Teknik Informatika. Rasanya capek berhadapan dengan tes demi tes perguruan tinggi ini, sudah belajar banyak nanti ujung-ujungnya gak lolos. Apalagi, di jurusan Teknik Informatika ini keketatannya paling tinggi, hanya 4%. Itu berarti dari 850 peminat hanya 20 yang bisa masuk. Sungguh, aku takut kegagalan itu terulang lagi.

Kali ini aku hanya banyak berdoa, semoga saja keberuntungan ada pada diriku. Jam 12 malam tepat, aku membuka laman pengumuman tes mandiri di ITS. Kali ini aku menangis, aku sudah kalah telak atas semua kegagalan ini. Sudah bayar banyak untuk tes mandiri di ITS masih tidak diterima pula. Hanya tersisa satu harapan; UM.

Kubangga-banggakan diriku untuk membangun semangatku, “suatu saat jika kau diterima di jurusan TI UM ini, kau akan menjadi satu orang yang mengalahkan 25 orang dalam peperangan ini.” Doa demi doa kutautkan kepada Tuhan karena aku tahu Tuhan sudah sering mendengar rintihanku ini. Tuhan kali ini pasti mengabulkan.

Setelah satu minggu tes mandiri di UM berlalu, hasilnya pun keluar. Tidak karuan rasanya, keringatku panas-dingin takut akan hasil tes mandiri ini. Ketika aku melihat, aku tidak menangis. Justru shock berat dan kaget. Seriuskah aku tidak diterima lagi? Ibuku menangis, bapak menenangkan. “Mungkin tahun ini belum waktunya kamu kuliah, Din. Tahun ini fokuskan dulu studi pesantrenmu kemudian tahun depan coba ikuti tes lagi. Tidak apa-apa bapak kehilangan banyak uang, demi pendidikanmu.”

Malam itu kalut rasanya, susah tidur memikirkan nasibku kedepan. Apa yakin aku hanya menunggu satu tahun untuk tes lagi? Sudah 4 kali di-PHP loh!

“Aku tidak akan kuliah! Daripada sakit hati!” aku sesenggukan.

Besok paginya, dengan mata sembab akibat menangis semalaman, aku masih tidak percaya dengan semua kenyataan ini. Aku cek lagi laman pengumuman tes mandiri di UM, untuk memastikan ini pasti ada yang salah.

Aku melihat cahaya harapan itu, iya sungguh ini nyata. Aku mengucek mataku, siapa tahu aku sedang bermimpi atau ngelindur karena masih pagi. Diterima? Padahal kemarin malam aku jelas-jelas melihat aku belum diterima di tes mandiri itu.

“Bu, lihat ini bu. Apakah ini benar? Apa aku lolos kali ini?”

Ibuku menangis bahagia, “Alhamdulillah naaak! Alhamdulillah!” ibuku seperti speechless dengan doa-doanya kemarin malam yang selalu dipanjatkan untukku. Mungkin Tuhan langsung menjawab pada pagi hari ini.

“Kemarin malam mungkin kesalahan server, karena bapak lihat tadi di judulnya bukan pengumuman untuk S1, tapi untuk D3.”

“Ooh, pantesaaan!”

Seisi rumah waktu itu sungguh seperti diguyur rahmat Tuhan. Semua raut wajah terlihat bahagia setelah semua kegagalan ini.

Lihat saja setelah ini, aku balas dendam apa yang telah Tuhan perbuat padaku. Aku akan menunjukkan prestasiku lebih baik daripada lulusan ITB maupun ITS. Aku tahu meski jurusan TI di UM tergolong baru, bukanlah tempat belajar yang menentukan kesuksesanmu.

Aku akan balas dendam kepada semua yang pernah meremehkanku. Bakat hanyalah pembatas manusia untuk berbuat lebih. Terkadang orang berpikir hanya orang-orang yang berbakat yang bisa melakukan itu. Tapi tidak bagiku. Semua kesuksesan adalah atas dasar usaha dan cinta. Aku belum tentu bisa berbakat di ITB maupun di ITS, namun tentu aku bisa berusaha dan mencintai pekerjaanku karena dari UM-lah aku belajar bersyukur. Belajar menerima apa yang ada dan membalas dendam atas pahitnya kenyataan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s