Cerpenku : Hidup di Dunia, Dibikin Asik Aja

323995_403936513019592_291485081_oCerpen ini menggambarkan kisah seorang sahabat yang mensyukuri hidupnya, dan membuat segala yang pahit menjadi lebih manis dan renyah. Berikut kisahnya🙂

“Hah? Mau makan lagi? Maaf ya sebelumnya kamu udah punya utang 50 ribu mau utang lagi?”

“Iya, habis kecolongan, kumohon…”

“Udah, langsung ke belakang tuh banyak piring sama gelas dicuci ya? Habis dicuci boleh makan tapi nasi sama kuah aja. Titik.”

“Yang penting GRATIS kan? Oke!”

“JANGAN UCAPKAN KATA ITU LAGI!”

Gratis. Kalau udah dengar kalimat itu siapa penjual yang tak benci dengan pembeli yang suka ngutang dan, akhirnya mengucapkan itu. Yah, kebiasaan pondok kami sih kalo si pembeli udah banyak utang di warung si penjual, penjual (dengan terpaksa) mengeluarkan kebijakan yaitu menggratiskan konsumsi dengan syarat membantu membereskan seluruh cucian piring dan gelas, sampai suci.

Itu sering dilakukan oleh Susi. Jangan salah paham dia laki-laki loh. Susi bisa dibilang, santri yang bejo tapi sering ngenes. Di satu sisi dia sering mendapatkan nikmat seperti makan gratis dan BAB lancar. Di sisi lain dia juga sering menggratiskan makanan temannya, sembelit dan/atau diare.

Satu mottonya yang membuat dia selalu strong dalam menghadapi segala musibah, yaitu dibikin asik aja.

Uang hilang? Dicolong? Dibikin asik aja. Ndengerin teman yang lagi curhat dengan masalahnya, terus ngutang ke dia. Misal nih :

“Eh bro, hari ini padet banget jadwalnya. Yang nge-band, kumpul OSIS, latihan sepakbola, jadwal istirahat seakan tak ada. Capek tau, jadi sering sakit gini.” Kata Bombom. “Gini bro, hidup itu pasti ada lika-likunya. Kesibukan yang positif itu adalah nikmat, teman. Bersyukurlah jika kau masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk selalu punya kegiatan positif. Kalau memang ingin tidak kecapekan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu. Pasti ada waktu istirahat, lah pas malam itu kamu jangan keseringan jagongan, dikurangi. Kopi juga sedikit dikurangi. Makannya harus teratur. Kalo jam 7 ya jam 7, telah sedikit ya gini jadi sering sakit maag gitu. Allah pernah bersabda….”

Bombom sempat terkesima dengan paparan-paparan hasil browsing si Susi, yang kata-katanya sering mengena dengan dalil-dalil langsung. Namun, ujung-ujungnya…

“Gini bro, agar amalmu semakin bertambah, bantulah hamba yang kelaparan ini. Di kitab Ta’lim menyatakan membantu orang yang mencari ilmu yang sedang kelaparan termasuk amal yang terbaik. Yah, sebagai teman yang baik saya mengingatkan Anda. Apakah Anda sebagai teman yang baik juga akan membantu saya?”

“Banyak bacot lu! Bilang aja ngutang!” Bombom kesal dengan muka terlipat saking gemuknya, ujung-ujungnya Susi nggombal.

Hafalan kitab nggak sampai? Dibikin asik aja. Cuma satu solusinya, ndalil.

“Udah? Cuma hafal 50? Targetnya 100! Masih jauuuh!” kata ustadznya Susi saat sedang menyimak hafalan Susi di masjid.

“Beginilah ustadz, manusia. Tempatnya salah dan lupa. Waktu itu, memang saya sudah hampir 100, Cuma saya baca sih tapi saya yakin hafal dan, ternyata lupa ustadz. Jujur ustadz, saya memang masih sering maksiat, tapi saya nggak ngerokok loh ustadz…”

Sang Ustadz prihatin. Masih adakah manusia sehina ini? Batinnya.

Sandal hilang? Sedangkan mau pergi ke masjid? Dibikin asik aja. Jalan ke masjid gak pake sandal, gosob sandal orang di masjid, cuci kaki, masuk masjid deh. Oh ya, lepas sandalnya dulu.

Namun waktu itu, Susi menggosob sandalnya sendiri (saking lamanya sandalnya hilang dia sampai lupa kalo itu sandalnya sendiri). Dan, ada temen Susi yang ngaku sandal yang sebenarnya milik Susi. Dia tahu kalo Susi nggosob sandal akuannya.

“Eh, ngapain gosob sandal orang? Tak laporkan keamanan kamu yah?!”

“Oh maaf maaf, Cuma buat cuci kaki kok. Nih, ku kembalikan..”

Sejenak Susi memandang sandal tersebut. Drama pun dimulai. Susi mulai merasa ada yang aneh, tiba-tiba dunia serasa lambat. Pandangannya mengayun pelan bolak-balik ke sandal itu dan melihat teman pengaku sandal gosobannya yang bersendekap menatap Susi. Dia mulai sadar kalau itu sandalnya!

“Maaf, kata samean sandal siapa? Sandal orang? Saya orangnya!”

“Oh ya? Buktikan kalau itu sandal kamu!”

“Ada bekas tahi kuda yang mengeras di bagian pojok kanan di sandal bagian kanan, dan ada bekas garukan kukuku disana!”

“Hah?” anak tersebut kaget. Dia mulai membalikkan sandal bagian kanan. Ternyata benar, ada bekas tahi kuda dan ada sedikit usaha menghilangkannya yang sudah mengeras itu.

“Memang sengaja sandalku kuinjakkan pada tahi kuda dan kubiarkan dia mengering dan kugaruk-garuk sedikit agar terlihat seperti seni. Sekarang tanda itu benar-benar bermanfaat untuk mendeteksi sandalku. Hehe.” kata Susi sambil mringis.

Ngantuk disaat ngaji karena kecapekan? Dibikin asik aja. Tidur dengan cara duduk menyila, dengan mata tertutup. Ketika ditunjuk oleh ustadz, bikin si ustadz sedikit ilfeel atau paling tidak sedih melihatmu. Seperti yang dilakukan Susi, dia menjawab dengan mata yang sipit, memperbesar lubang hidung, lalu pura-pura menyesakkan nafas dan memonyongkan mulut. Seketika ustadz langsung menghukumnya keluar, menyuruh Susi berwudhu agar tidak kesetanan.

Yah, hidup initak sesulit yang digambarkan drama-drama film zaman sekarang. Sampai-sampai membuat penonton menangis terharu. Juga tak segampang yang digambarkan oleh film-film heroik, seakan-akan mereka sudah dianugerahi kekuatan oleh Tuhan untuk menjadi yang terhebat di muka bumi.

Jadi orang itu, biasa-biasa aja. Ada konflik menyerang? Dibikin asik aja. Ada nikmat dari Tuhan? Dibikin asik aja dan bersyukur. Itulah prinsip yang paling menancap dan tak goyah sekalipun dari sesosok Susi.

Namun, mungkin hanya satu hal waktu itu yang membuat Susi sedikit goyah dari prinsipnya. Waktu dia ditinggal pergi oleh ayahnya. Ayahnya, selama beliau hidup telah banyak menginspirasi Susi, membebaskan Susi untuk beraspirasi, berimajinasi untuk masa depannya. Semenjak tiada, dia sempat sering menyendiri. Sering berfikir, dan sepertinya mempunyai banyak unek-unek.

Nilai pelajarannya, tingkat kerajinannya pun mulai berkurang. Dia tak seceria dan sesemangat dulu.

Aku pun berusaha mendekatinya. Kubujuk dia berdiskusi, kutraktir dia makan, kuajak dia pergi refreshing, dia menolak semuanya. Tak seperti biasanya.

“Ayolah bro, mau sampai kapan kamu begini terus? Kami menunggu canda tawamu yang dulu. Bangkitkan bro! Katanya dibikin asik aja?”

“Lo gampang banget ya kalo ngomong! Lo belum rasain ditinggal sama orang yang selama ini memberimu kekuatan, inspirasi, mau dibikin asik gimana kalo yang satu ini? Apa aku harus menari-nari, bersenang-senang dan melupakan atas kematian ayahku? Hah?!”

Aku tertunduk, terdiam. Kali ini aku salah, lidahku tergelincir mengucapkan kata-kata “dibikin asik aja” yang seharusnya nggak kusangkut di permasalahan ini.

Yah, konsekuensinya kalo sudah terjadi konflik seperti ini, kami berdua harus vakum sementara untuk saling bertemu. Kubiarkan dia berfikir bagaimana solusi dari keterpurukannya selama ini.

Satu minggu terlewat, dia mulai beradaptasi lagi. Mulai ceria lagi. Sekarang, kesempatanku untuk mendekatinya.

“Gimana bro? Sudah baik keadaanya?”

“Yah, paling tidak ada yang bisa mengurangi kesedihanku lah. Meskipun masih terkenang, jasa beliau.”

“Mmm, kalo boleh tau apa yang membuatmu senang kali ini?” tanyaku penasaran.

“Gini, aku sekarang dapat tawaran kerja. Tepatnya, bukan bekerja sih. Sekarang aku mau mengabdi untuk pondok ini. Aku ditugaskan untuk mengurusi sawah milik pondok itu. Mulai dari menanam, memanen, sampai mengolah. Paling tidak, belajar berbisnis lah. Hehe.”

Senyum bahagia rupanya sudah terpancar tanpa syarat di wajah Susi. Tak ada tanda raut muka yang sedih kali ini. Biasanya sih, meski dia bahagia tetapi matanya kurang berbinar, menunjukkan ada kesedihan yang tersimpan di hatinya.

Susi, kamu pasti akan jadi orang sukses!

Indahnya taman di kota Malang kali ini, benar-benar membuatku terbayang lama sekaliakan masa laluku yang indah pula di pondok dulu bersama teman-teman dan yang spesial, Susi.

Aku duduk termenung melihat anak-anak bermain ceria di taman ini. Lamunanku tiba-tiba pecah ketika ada seseorang berkumis panjang menepuk bahuku dari samping. Sempat berfikir lama aku melihatnya, dan ternyata orang itu adalah yang selama ini aku cari-cari, aku kangeni, Susi!

“Ya Allah, Susi!” aku memeluk erat Susi. Kugoyang-goyangkan tubuhnya, masih tetap ringan. Dia semakin kurus rupanya. Susi tampaknya terharu, menangis sesenggukan.

“Akhirnya Allah mempertemukan kita disini, teman!” Susi mengusap setitik air mata di pipinya. “Bro, cita-citaku selama ini akhirnya sudah tercapai. Aku udah punya sawah sendiri di daerah Gondanglegi sana, sekarang aku sudah jadi produser beras terbaik se Kabupaten Malang! Hehe.” Kata Susi sambil mengacungkan jempolnya ke hidungku.

“Alhamdulillah, barokallah teman!”

“Sekarang kamu kerja apa?”

“Loh, kamu belum tahu?”

“Belum. Kenapa?”

“Dasar orang desa kamu. Baru ke Malang kapan sih?”

“Udah hampir 1 tahun lamanya baru kali ini aku ke Malang, bro. Maklum, aku masih banyak urusan di Gondanglegiku tercinta.”

“Haha, dasar bos beras. Ini.” Aku mengeluarkan dari tasku sebuah novel berjudul “Hidup itu, Dibikin Asik Aja”. Kuserahkan novel itu kepada Susi. Susi sempat mengamati judul buku, dan pengarang. Ternyata, “Kamu pengarangnya, Rusy?”

“Selama ini, kamulah inspirasiku, Sus. Aku tuangkan segala bentuk kepribadianmu yang patut dicontoh oleh para pemuda, di buku itu.” Susi terhenyak, ia tak menyangka seberjasa itukah dirinya di mataku.

“Best Seller itu apa? Es yang itu?” Susi menunjuk gerobak Es Teler di sebelah pohon.

“Bukan, itu es teler bodoh! Best Seller itu, penjualan bukunya sudah melebihi ratusan eksemplar. Mudahnya, novel ini sering laku terjual. Aku mencari informasimu kemana-mana, tanya teman, tanya anak-anak pondok angkatan kita, nomor telepon kamu, alamat kamu, kamu sih pas aku mau boyong dari pondok lupa kasih alamatmu ke aku ya? Huuh, padahal aku hanya ingin berterimakasih padamu. Dan ingin menyambung tali silaturrahim kita.”

Susi kembali terhenyak, dia mulai berkaca-kaca.

“Maaf teman, waktu itu aku benar-benar khilaf. Semenjak aku lulus dari pondok, yang kufokuskan terlebih dahulu adalah melanjutkan pekerjaanku sebagai petani di sawah pondok itu. Demi membiayai ibuku yang sedang sakit lumayan parah. Jadi, aku tak sempat memberimu alamat, bahkan aku tak sempat beli HP yang sebenarnya penting sekali untuk berkomunikasi. Aku sering mondar-mandir rumah sakit ke pondok, melihat kondisi ibu dan kondisi santriku. Lagian, kamu boyong duluan sih..”

“Yah, kan aku lagi dapet beasiswa kuliah di Jogja. Terpaksa juga aku harus mengakhiri kegiatan pondok sebelum lulus. Aku tak sempat mengalami menjadi ustadz di pondok kita, kamu lebih beruntung, Sus. Sudahlah, lupakan kejadian miskomunikasi itu. Sekarang, intinya kita sudah bertemu. Ayo, kita lanjutkan tradisi kita!”

“Ngopi kan?”

“Bukan sekedar warkop kali ini bro. Aku ajak kamu ke Cafe. Ayo!” kutarik tangan Susi segera sambil menarik tasku dan berlari menuju KFC Cafe.

Kulihat Susi kali ini benar-benar terlihat sukses..

One Comment Add yours

  1. a. syaikhu afif mengatakan:

    I Like It

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s