Pendidikan Berbasis IT

Dewasa ini, banyak negara-negara di dunia yang menerapkan pendidikan berbasis teknologi. Khususnya di Indonesia ini, juga banyak yang menerapkannya. Ada yang mengatakan, pendidikan berbasis IT dapat mengoptimalkan  pembelajaran, mengetahui informasi-informasi dengan seluas-luasnya, dan juga ada yang bilang cuma buat gengsi-gengsian biar dikatakan sekolah tersebut maju.

Tetapi, para petinggi Google dan perusahaan-perusahaan teknologi terbesar lainnya kurang setuju dengan pendidikan berbasis IT, Kenapa? Karena, mereka berpendapat bahwa teknologi dan pendidikan tidak bisa dipersatukan. Anak-anak mereka pun disekolahkan tanpa adanya campur tangan komputer, LCD Projector, dan kabel-kabel. Mereka tidak mau anak-anak mereka dicampuri kehidupan serba teknologi semasa kecilnya, karena menurut mereka alat-alat canggih seperti komputer, iPad, dan sejenisnya, dapat membuat kita malas untuk belajar. Contohnya, komputer. Dengan komputer, kita tidak perlu menulis dengan susah payah, cukup mengetikkan dan print. Sehingga, bakat penulisan kita menjadi berkurang.

Pendidikan anak-anak tersebut hanyalah berdasar pada pengembangan kreatifitas dan kegiatan-kegiatan yang menstimulasi perkembangan otak dan adrenalin. Misalnya, pada pelajaran Matematika, pada bab kubus, maka semua anak-anak tersebut diminta untuk membuat kubus seindah mungkin. Setelah semuanya jadi, maka sang guru menjelaskan apa itu kubus dan menyuruh mereka mempresentasikan hasil-hasil kubus buatan mereka. Mereka juga diajak untuk kegiatan outbound, yang dapat me-refresh otak mereka, bukan dengan main game.

Pendapat diatas memang benar, tetapi ada pendapat lain. Yaitu dari Mbah Google (julukan penulis). Menurut beliau, teknologi bukanlah penghambat untuk belajar. Justru, dengan teknologilah penulis bisa berkreatifitas. Dengan cara, menuliskan artikel-artikel di blog, mengedit foto, membaca berita-berita melewati situs berita, dan lain-lain.

Tetapi, terkadang teknologi membuat kita malas. Dengan adanya godaan game dan facebook, kadang-kadang penulis merasa agak malas mengerjakan sesuatu. Tapi nggak terlalu sering. Alhamdulillah, berkat adanya pondok waktu belajar saya jadi teratur. Karena kemungkinan 1/6 hari saja penulis bisa berhadapan dengan laptop, tidak lama-lama.

Penulis pun punya cita-cita bahwa nanti akan dibuatnya situs jejaring sosial sendiri yang bertujuan sebagai forum pembelajaran ilmu agama (yang paling utama) dan ilmu umum. Jadi, seperti halnya Facebook, tetapi isinya bukan cuma update status, upload photo, main jempol, atau main game.

Penulis berangan-angan akan memberikan fitur-fitur yang menarik dipandang mata dan menyediakan perpustakaan kitab-kitab dan buku-buku lain. Sehingga, pengunjung betah dan di situs tersebut dapat dijadikan sebagai ajang berdakwah dan saling membagi ilmu. Insya Allah penulis akan wujudkan itu. Mohon do’anya dan mungkin yang mau berpartisipasi, silahkan comment.

Tunggu tanggal mainnya ya!
COMING SOON…
I-slam

One Comment Add yours

  1. silver account mengatakan:

    Teknologi Informasi Pendidikan untuk anak-anak diselenggarakan secara klasikal yang ditata di dalam suatu system teknologi informasi pendidikan secara nasional. Dan untuk orang dewasa bisa mengikuti pola pendidikan untuk anak-anak yang dikombinasikan dengan kegiatan yang lain, seperti seminar, lokakarya dan sarasehan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s