Kopi

Yah, tentunya kalian semua sudah tahu ‘kan yang namanya “kopi”? Minuman khas berwarna hitam dilengkapi dengan letek, adalah minuman yang sangat umum di pondok kami. Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa kali ini penulis membahas kopi?

 

Begini, kali ini sebenarnya mau membahas tentang “Usaha dan Do’a”. Hubungannya dengan kopi? Ada dech. Kalian tahu, proses pembuatan kopi? Minuman yang penuh aroma ini buatnya lama lho. Mulai dari nunggu air panas sampai menyeduhnya melewati lepek. Nah, hasil usaha kita itu disamakan dengan kopi. Kok bisa? Mari kita urut proses pembuatannya.


 

Pertama, kita panaskan air sampai mendidih yang membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit. Lalu, sediakan beberapa sendok kopi dan gula di sebuah cangkir. Setelah air matang, tuangkan di cangkir. Aduk merata hingga aroma kopi tercium.

 

Terus, apakah kita langsung meminumnya? Nggak lah! Ledeh lambemu! Kita tunggu sampai agak dingin, dituangkan di lepek, terus ditiup-tiup biar menguap. Niup-niupnya juga nggak sebentar, mungkin butuh 30 detik , itu paling lama. Akhirnya, kita pun merasakan nikmatnya kopi. Tapi ingat, cuma sesruputan.

 

Tapi, jangan lama-lama nunggunya. Nanti malah kopinya menjadi dingin, tidak nikmat lagi jadinya. Setelah minum sesruputan, ambil lagi cangkirnya lalu tuangkan sedikit demi sedikit di sebuah lepek.

 

Nah, penulis menggambarkan usaha dan do’a kita itu seperti kopi. Kita berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik, kita gambarkan  sebagai bentuk penungguan matangnya air sampai mengaduk rata air kopi.

 

Lalu, kita tidak cukup dengan usaha terus, sampai boyoken. Nggak. Kita disuruh untuk berdoa kepada Allah agar dimudahkannya usaha kita. Kita gambarkan sebagai bentuk meniup-niup terhadap kopi agar cepat dingin.

 

Akhirnya, kita pun merasakan nikmatnya dari apa yang telah kita usahakan dan tawakkal yang mengiringinya, kita gambarkan sebagai bentuk sesruputan kopi.

 

Tapi, jangan puas dulu! Jangan puas dulu dengan sesruputan kopi, tuangkan lagi butiran-butiran air kopi di lepek, ditiup lalu dinikmati lagi. Jangan terlalu lama menunggu panasnya kopi. Nanti malah dingin kopinya.

 

Janganlah kita berhenti atas keberhasilan kita. Terus cari apa kekurangan-kekurangan kita dan perbaiki, karena selamanya kita tidak akan luput dari kesalahan. Jangan bermalas-malasan jika kita sudah berhasil akan sesuatu. Cari ide baru, dan wujudkan.

 

Maka dari itu, jangan berhenti sampai disini. Terus berjuang, perbaiki akhlaq kita, cari ilmu sebanyak-banyaknya, perbanyak amal ibadah, dan berkaryalah!

Sumber : Otak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s