IKHLAS

Ikhlas adalah suatu kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diamalkan. Lebih-lebih di zaman akhir ini, banyak sekali orang yang kelihatan luarnya beribadah dan beramal sholeh, tetapi sebenarnya dia tidak ikhlas. Sebagaimana pernah disabdakan oleh rosulullah dalam hadits riwayat Abdullah bin Mubarok ”Ketika amal seseorang yang dikira besar jumlahnya oleh para malaikat dan mereka memujinya, ditunjukkan kepada Allah, maka Allah menolak dengan Firman-Nya ’kalian menyangka orang ini baik-baik, padahal sangat buruk, amal ibadahnya tidak ikhlas untuk-Ku, maka pantaslah tempatnya di neraka sijjin’ dan sebaliknya terjadi pula amal seseorang dikira kecil nilainya oleh para malaikat, ternyata besar dipandangan Allah, karena ikhlas niatnya, maka sorga illiyyinlah balasannya.

Coba kita tengok keadaan di sekeliling kita, banyak sekali lembaga-lembaga sosial, maupun perseorangan yang rajin memberi bantuan kepada kaum dluafa’ tetapi kebanyakan dilakukan demi kepentingan tertentu, buktinya mereka hanya memberi bantuan kepada golongan yang memberi kontribusi pada kegiatan maupun kepentingan pribadinya.

Yang lebih memprihatinkan adalah shodaqoh yang semula nilainya ibadah berubah jadi sia-sia hanya karena berubahnya niat. Tasyakkur pernikahan misalnya, dulu merupakan wujud kegembiraan, wujud rasa syukur dalam bentuk shodaqoh makanan kepada para undangan. Sekarang berubah menjadi upaya pesta pora dengan harapan mendapat imbalan (bowoan) dari para undangan.

Orang-orang dulu yang menghadiri pesta pernikahan berniat shodaqoh pada mempelai untuk tambahan bekal memulai hidup baru, tetapi sekarang berubah menjadi tidak ikhlas karena berharap suatu saat mereka akan memberi juga saat kita punya hajat, bahkan sudah budaya memberikan bowoan dengan menuliskan identitas pemberinya.

Ketika shodaqoh karena ditimpa musibahpun, niatnya sudah bukan lagi lillahi ta’aala, melainkan karena manusia. Kadangkala acara selamatan dipaksa-paksakan karena takut dicemooh tetangga bila tidak mengadakannya. Padahal jika tidak mampu melaksanakan karena minimnya dana dengan disodaqohkan pada fakir miskin sekitar atau ke madrasah dan masjid-masjid, asal ikhlas pahalanya akan sampai juga pada ahli kubur.

Lantas amalan dan ibadah mana yang ikhlas itu? Ada satu gambaran amalan yang ikhlas adalah saat kita buang hajat. Ketika kita buang hajat kita tidak akan menengok lagi apa dan seberapa besar yang kita keluarkan dan tidak kita pikir kemana barang itu akan mengalir. Kita tidak akan tersinggung bila kotoran itu diinjak-injak orang, kita tidak akan tersanjung bila kotoran itu dimanfaatkan orang.

Bila kita ingin tahu ikhlas tidaknya ibadah kita, misalnya shodaqoh kita, mari kita tanya diri sendiri, apakah saat sodaqoh kita tengok dulu berapa nilai uang yang kita sodaqohkan? Apakah kita mengecek untuk apa digunakannya uang itu? Seandainya ada yang mengejek nilai shodaqoh kita marahkah kita? Jika ada yang memuji shodaqoh kita banggakah kita? Bila semua kita jawab tidak maka kita sudah ikhlas lillahi ta’ala.

Dalam sebuah hadits rosulullah bersabda

يَخْرُجُ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ اَقْوَامٌ يَجْلِبُوْنَ الدُّنْيَا بِاالدِّيْنِ, فَيَلْبَسُوْنَ لِلنَّاسِ جُلُوْدَ الضَّأْنِ فِيْ اللِّبْنِ اَلْسِنَتُهُمْ اَحْلَى مِنَ الشُّكَّرِوَقُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الذِّئَابِ يَقُوْلُ اللهَ: اَبِى تَغْتَرُّوْنَ اَمْ عَلَيَّ تَجْتَرِؤُنَ. فَبِى حَلَفْتُ َلأَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ فِتْنَةً تَدَعُ الْحَكِيْمُ الْعَاقِلُ فِيْهَا خَيْرَانْ

Di akhir zaman akan timbul golongan-golongan yang menghimpun harta dunia dengan memperalat agama, bersandang (wol) bulu domba, bicaranya sangat menarik, seperti manisnya madu tetapi hatinya buas melebihi serigala. Kelak mereka dimarahi Allah dengan firman-Nya “Kalian berbuat sandiwara dan menentang kebesaran-Ku, maka tunggulah saat Aku menimpakan fitnah/bala’ sampai membingungkan manusia yang berakal tenang.

Melihat hadits tersebut, dan kita sudah sangat jauh nari masa hidup rosulullah, nampaknya perkiraan rosulullah sudah terjadi di sekeliling kita. Kenapa di negeri yang mayoritas muslim ini, kita masih ditimpa berbagai musibah, baik itu berupa bencana alam, wabah penyakit, maupun musibah ekonomi. Jawabnya adalah karena saat ini sudah timbul golongan yang memperalat agama untuk kepentingan dunia. Banyak kasus seorang yang berpenampilan bagaikan kiayi, berpenampilan bagaikan syeh, atau bahkan menyebut dirinya kiayi, syeh, gus, dsb. ucapannya halus tetapi dalam hatinya justru ada niatan kotor bagaikan serigala. Banyak orang-orang bersurban tetapi masih melakukan perbuatan maksiat dan aniaya.

Demikian halnya dengan para calon legislatif yang mencantumkan gelar Haji, memakai surban, memakai jubah memakai jilbab hanya untuk mencari simpati padahal dalam kesehariannya, perilaku dan akhlaknya tidak sesuai. Dalam satu kesempatan ada caleg wanita yang marah-marah ketika gambarnya diturunkan. Yang mengherankan di gambar dia berpenampilan sebagai muslimah, tapi saat memprotes dia tidak memakai jilbab. Inilah contoh ketidak ikhlasan.

Marilah kita mengambil hikmah dari peringatan maulid yang lalu dengan meneladani akhlaqul karimah, uswah hasanah, teladan mulia rosulullah. Kami mengajak diri sendiri dan segenap jamaah marilah kita rubah bangsa ini dengan memulai dari perubahan pada diri dan dilanjutkan dengan keluarga kita. Marilah kita coba belajar ikhlas dalam segala hal. Saat kita punya hajat pesta pernikahan marilah kita niati shodaqoh, kita tidak perlu berharap tamu yang hadir harus memberi bowoan. Sebaliknya saat kita bowo marilah kita ikhlas semampu kita tidak perlu sungkan dengan bertanya ”pastasnya bowo berapa?” dan tidak perlu berharap imbalan atau perhatian dengan mencantumkan nama. Demikian pula ibadah yang lain, sholat, puasa, baca al-qur’an dan sebagainya marilah kita lakukan dengan ikhlas.

Ketahuilah bahwa keikhlasan bisa dijadikan wasilah atau perantara terkabulnya suatu doa. Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Umar, rosulullah bersabda yang ringkasnya sebagai berikut:

Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga bermalam dalam gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka : Sungguh tiada suatu yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika bertawassul kepada Allah dengan amal-amal sholih yang pernah kami lakukan dahulu.

Orang pertama berdoa: Ya Allah dahulu saya mempunyai ayah dan ibu dan saya biasa tidak memberi minuman susu pada seorangpun sebelum kedua orang tua saya. Maka suatu saat aku menggembala agak jauh sehingga ketika kembali kedua orang tuaku sudah tertidur. Meskipun merengek terus semalaman anak-anakku tidak kuberi minum susu sebelum orang tuaku terbangun dan meminumnya. Ya Allah jika saya melakukan hal itu karena ikhlas maka lapangkanlah keadaan kami bertiga saat ini. Maka bergeserlah sedikit batu itu, dan belum cukup untuk keluar.

Berdoa yang kedua : Ya Allah saya dahulu mencintai anak gadis pamanku, aku selalu merayu dan ingin berzina namun ditolaknya. Suatu saat ia menderita kelaparan dan meminta bantuan kepadaku. Aku beri bantuan 130 dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya padaku. Ketika aku mau melakukan perbuatan zina ia berkata ”Takutlah kamu kepada Allah” maka aku segera bangun dan meninggalkan serta memberikan uang itu tanpa imbalan meski sebenarnya keinginan berzina tetap ada. Ya Allah bila hal itu ikhlas kulakukan maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini. Maka bergeserlah batu itu, tapi masih belum cukup.

Orang ketiga berdoa: Ya Allah dulu saya sebagai majikan dan sedang membagikan upah buruh. Tiba-tiba seorang darinya tidak sabar menunggu dan pergi begitu saja. Setelah lama berlalu buruh itu datang dan meminta upahnya, Jawabku ”Semua kekayaan di depanmu yang berupa unta, lembu dan kambing serta pengembalanya adalah milikmu.” Sang pembantu menjawab ”Engkau jangan mengejekku” Aku menjawab ”Benar, upahmu kugunakan untuk modal sehingga berlipat sebanyak itu maka ambillah” Ya Allah jika aku melakukan semua itu ikhlas karenamu maka lapangkanlah kami darai permasalahan ini. Maka bergeserlah batu itu hingga ketiganya bisa keluar dengan selamat.

Kisah di atas dapat kita jadikan pijakan, jika kita ingin terbebas dari masalah, jika kita ingin lepas dari musibah, jika kita ingin mencapai cita-cita, jika kita menginginkan sesuatu maka setidaknya kita harus melakukan perbuatan baik, terutama kepada orang tua secara ikhlas. Kita juga harus bersodaqoh dan meninggalkan larangan Allah secara ikhlas, serta kita harus meninggalkan harta haram yang bukan milik kita. Dengan keikhlasan amal tersebut dapat kita jadikan wasilah atau perantara untuk memohon pada Allah.

2 Comments Add yours

  1. Muhammad Dindi mengatakan:

    Sipp, setuju ya akhi !!
    Salam Another masanega blogger,
    Blognya bagus..😀

    1. alfangantengz mengatakan:

      Thank u very much..
      شكرا جزيلا

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s