DZALIM

Hidup di dunia ini yang kita dambakan adalah bagaimana hidup tenteram penuh dengan kedamaian. Dunia akan menjadi indah, jika hidup kita ini damai, sejuk dan menyenangkan. Tapi untuk mencapai hidup tenteram dan sejahtera itu, atau istilah negara kita mencapai masyarakat yang adil dan makmur, bukan pekerjaan mudah, sebab masing-masing orang punya kepentingan dan ambisi. Karena ambisinya terjadilah saling menindas, saling merebut antara satu sama lain, dalam istilah agama kita terjadilah kedzoliman.

Jika kedzoliman dilakukan oleh penguasa, maka rakyat akan menjadi sengsara, dan bisa terjadi demonstrasi, ketidak puasan, atau bahkan pemberontakan. Jika kedzoliman dilakukan dalam lingkungan keluarga, istilah sekarang KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) maka akan terjadi ketidakharmonisan. Pendeknya, perbuatan dzolim merupakan sumber malapetaka oleh karenanya Allah sangat melarang perbuatan dzolim sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqoroh ayat 279

Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Dipertegas pula dengan hadits riwayat Ahmad, Thabrani, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Umar, rosulullah bersabda

اِتَّقُواالظُّلْمَ فَاِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Takutlah terhadap dzolim, karena sesungguhnya dzolim itu akan menimbulkan kegelapan pada hari kiamat.

Dalam kitab “Mukasyafatul qulub” Imam Al-Ghozali mengemukakan hadits rosul

خَمْسَةٌ غَضَبَ اللهُ عَلَيْهِمْ اِنْ شَاءَ اَمْضَى عَلَيْهِمْ فِى الدُّنْيَا وَاِلاَّ ثَوَى بِهِمْ فِى اْلاَخِرَةِ اِلَى النَّارِ

Ada lima macam kedzoliman, Allah murka kepada mereka, pelakunya bukan saja akan mendapat siksa di akhirat kelak, tetapi juga selagi masih di dunia ini, Allah akan menimpakan bencana kepada yang bersangkutan, jika Allah menghendakinya.

اَمِيْرُ قَوْمٍ يَأْخُذُ حَقَّهُ مِنْ رَعِيَّتِهِ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ مِنْ نَفْسِهِ وَلاَ يَدْفَعُ الظُّلْمَ عَنْهُمْ

Raja atau kepala negara yang merampas hak-hak rakyatnya, tidak berlaku benar terhadap mereka dan tidak membela mereka dari tindakan-tindakan kedzaliman

وَرَغِيْمُ قَوْمٍ يُطِيْعُوْنَهُ وَلاَ يَسْتَوِيْ بَيْنَ الْقَوِيِّ وَالضَّعِيْفِ وَيَتَكَلَّمُ بِالْهَوَى

Pemimpin yang dipatuhi oleh umatnya, tetapi dia tidak memperlakukan sama antara orang yang kuat dan orang yang lemah dan hanya berbicara menurut hawa nafsunya

وَرَجُلٌ لاَ يَأْمُرُ اَهْلَهُ وَوَلَدَهُ بِطَاعَةِ اللهِ وَلاَ يُعَلِّمُهُمْ اَمْرَ دِيْنِهِمْ

Laki-laki yang tidak menyuruh keluarga dan anak-anaknya mentaati Allah dan tidak mengajarkan urusan-urusan agama kepada mereka

وَرَجُلٌ اِسْتَأْجَرَ اَجْرًا فَاسْتَعْمَلَهُ وَلَمْ يُوَفِّهِ اَجْرَهُ

Laki-laki yang mempekerjakan orang tetapi tidak disempurnakan upahnya

وَرَجُلٌ ظَلَمَ امْرَأَةً فِي صَدَّاقِهَا

Laki-laki yang dzalim terhadap istrinya dengan tidak memberi belanja, nafkah

Marilah kita cermati hadits di atas, kita bandingkan dengan keadaan di sekeliling kita saat ini. Bagaimanakah perilaku kebanyakan para pejabat kita, kebanyakan para anggota dewan, kebanyakan para penegak hukum saat ini. Banyak hak-hak rakyat yang dirampas, banyak rakyat kecil yang diperlakukan secara tidak adil dan bahkan mereka sudah tidak mampu lagi memberikan perlindungan terhadap rakyatnya dari kedzoliman. Tengok saja kasus lapindo, kasus korupsi, kasus salah tangkap, kasus daging busuk yang menandakan rakyat didzolimi dan diperlakukan tidak adil.

Saat ini keadilan bukan lagi ditentukan oleh hukum, tetapi keadilan ditentukan oleh siapa yang kuat siapa yang lemah, siapa yang berduit dan siapa yang tidak, siapa yang pangkat dan siapa yang jelata. Mereka para pemimpin, para anggota dewan, para penegak hukum tidak lagi mampu menyuarakan hati nurani, tidak mampu lagi menyuarakan kebenaran hukum. Jika berbicara, jika berkomentar, jika berdebat banyak yang menampakkan bahwa ucapannya hanya dilakuan berdasar hawa nafsunya saja sehingga timbul fitnah sana fitnah sini, tuduh sana tuduh sini, yang penting dirinya selamat.

Wajarlah jika kondisi negara kita seperti itu, maka upaya mencapai masyarakat adil dan makmur sangat sulit dicapai. Bahkan Allah berulang kali menurunkan bala’ dan bencana sebagai peringatan bagi kita bahwa kedzoliman harus dihentikan.

Kita juga tidak boleh hanya menyalahkan para pemimpin, para anggota dewan dan para penegak hukum. Coba tengok diri kita sendiri, coba tengok tetangga kanan kiri, coba tengok masyarakat kita secara umum. Kebanyakan kita saat ini juga dzolim karena tidak menyuruh keluarga kita mentaati Allah dan rosulnya, kebanyakan kita juga dzolim karena membiarkan anak-anak dan keluarga kita tidak mengenal urusan agama. Maka wajarlah bila hidup kita terasa tidak tenteram, suasana rumah tangga terasa tidak harmonis, karena sebenarnya semua itu adalah akibat kelalaian kita sehingga Allah murka kepada kita.

Suasana di atas diperparah lagi dengan penyimpangan-penyimpangan dalam pemberian upah buruh, serta dalam menunaikan nafkah terhadap keluarga. Semakin lengkaplah 5 macam kedzoliman telah merajalela di sekeliling kita. Maka sekali lagi wajar bila bangsa kita terpuruk dalam segi ekonomi, bangsa kita rusak dalam segi moral, bangsa kita tertinggal dalam segi pendidikan, dan masih banyak kerusakan yang lain.

Perbuatan dzolim atau aniaya, siapapun yang melakukan, pasti akan menimbulkan malapetaka. Apakah itu dilakukan oleh pribadi, keluarga, kelompok masyarakat atau Negara, pasti perbuatan dzolim akan menimbulkan keresahan, kekacauan dan ketidaktenteraman. Sejarah telah bicara bahwa perbuatan dzolim pasti akan dihancurkan oleh Allah, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Yunus ayat 13

Dan Sesungguhnya kami Telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka Telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.

Beruntung umat Muhammad tidak langsung dibinasakan oleh Allah karena kedzalimannya. Tetapi karena kedzoliman kita, maka bangsa kita dilanda bencana, dilanda musibah, bangsa kita mengalami krisis ekonomi, bangsa kita mengalami krisis moral, bangsa kita mengalami krisis sosial. Di Negara kita pendidikannya buruk, kesehatannya buruk, ekonominya buruk, keamanannya buruk dan masih banyak keburukan yang lain. Harga barang mahal, mencari pekerjaan sulit, yang berijazah menganggur apalagi yang tidak berpendidikan, tetapi anehnya korupsi terus merajalela, uang negara uang rakyat hanya dihabiskan segelintir orang. Yang jelas semua keadaan itu menunjukkan bahwa saat ini kita mengalami krisis multidimensi.

Jalan satu-satunya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, jalan satu-satunya untuk mengatasi krisis multidimensi di negara kita adalah dengan bertaubat. Marilah kita mulai dari diri kita bertaubat pada Allah bahwa selama ini kita telah maksiat, kita telah dzolim kepada Allah. Selama ini kita belum melakukan segala perintah Allah dan belum meninggalkan semua larangan Allah. Selama ini keluarga kita belum kita ajak taat kepada Allah, keluarga kita belum kita bekali dengan agama yang cukup untuk meraih kebahagiaan di dunia dan diakhirat. Dengan menyadari dan memperbaiki kesalahan kita, dengan bertaubat Insya Allah kita akan dikeluarkan dari krisis multidimensi.

Dalam kitab tanbihul Ghofilin dikisahkan bahwa Nabi Adam as bersabda : “Allah telah memberi umat Muhammad empat kemuliaan yang tidak diberikannya kepadaku. Pertama, taubatku hanya diterima di Mekah sedang umat Muhammad jika bertaubat di mana saja diterima oleh Allah. Kedua, aku dulu berpakaian kemudian ditelanjangi sesudah bermaksiat, sedang umat Muhammad bermaksiat dalam keadaan telanjang, kemudian diberi pakaian. Ketiga, bahwa tatkala aku bermaksiat dipisahkan aku dari istriku, sedang umat Muhammad melakukan maksiat, tetapi tidak dipisahkan dari suami dan istrinya. Keempat, aku bermaksiat di dalam surga lalu dikelarkan, sedang umat Muhammad bermaksiad di luar surga, tetapi akan dimasukkannya jika bertaubat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s