Manusia dan Problema Kehidupan

Bersyukurlah kita, bahwa kita tercipta sebagai manusia, yaitu makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna bentuknya, sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tin ayat 4

Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Tetapi hati-hatilah, sebab tidak semua manusia mampu mempertahankan derajatnya sebagai makhluk paling luhur, bahkan kenyataannya banyak manusia yang terperosok ke dalam kenistaan sebagaimana lanjutan ayat tersebut.

Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

Jika kita tidak ingin turun derajat atau bahkan terperosok menjadi makhluk yang paling hina, maka kita harus berpegang teguh pada keimanan dan selalu mengerjakan amal sholeh.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya

Beriman dan beramal sholeh memang mudah diucapkan tetapi kenyataannya sulit dilakukan. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang berani menerima amanat Allah di saat makhluk lain tidak sanggup memikulnya. Inilah bukti kehebatan manusia sekaligus ketololannya. Disebut kehebatan karena bila mampu memikul amanat derajat manusia akan sangat tinggi. Disebut tolol karena manusia tidak sadar bahwa memikul amanat itu amat berat, dan akhirnya kebanyakan manusia menghianati amanat itu sendiri.

Hal ini telah difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Sebagaimana ayat tersebut di atas, manusia telah sanggup memikul amanat yang pernah ditolak oleh langit, bumi dan gunung, oleh karena itu marilah kita jaga amanat, marilah kita tingkatkan terus kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah. Marilah kita memperbanyak ibadah sebagai bekal menghadap Allah nanti. Marilah kita berusaha menjadi orang yang selalu bersyukur atas apa yang kita sandang. Sebab kebanyakan manusia tidak pandai bersyukur, kebanyakan kita suka berkeluh kesah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ma’aarij ayat 19 – 25

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

Pernyataan Al-Qur’an pasti benar. Jika kita mau introspeksi, diakui atau tidak selama ini kita selalu saja mengeluh terhadap keadaan yang kita alami, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada Allah. Kita jarang mensyukuri apapun yang kita alami dan kita miliki akibatnya kita menjadi kikir.

Sebagai contoh, ketika kita tidak punya pekerjaan atau punya penghasilan tapi tidak cukup kita bisanya mengeluh pada Allah. Padahal selain harta, Allah telah memberi rizqi yang cukup banyak, misal kesehatan, keluarga yang tenteram dan lain-lain. Karena selalu mengeluh itulah akibatnya ketika ada orang lain yang membutuhkan bantuan, kita jadi kikir dengan alasan kita sendiri masih membutuhkan. Padahal kalau mau menengok banyak orang yang lebih menderita dari kita, pasti ada orang lain yang tidak punya penghasilan, ditambah lagi punya hutang, ditambah lagi menderita sakit parah. Jika kita mau menengok yang demikian maka kita akan selamat dari kebiasaan selalu mengeluh dan kikir.

Anehnya lagi manusia, disaat Allah memberi rizqi, dia merasa rizqinya masih kurang, masih sedikit sehingga rasa syukurnya tidak ada. Kenapa dengan rizqi yang sedikit kita mengeluh? Karena kita menengok orang yang diatas kita, kita menengok oarng yang rizqinya banyak. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk tidak menengok ke atas untuk urusan harta dunia.

Orang yang bisa selamat dari berkeluh kesah, orang yang tidak kikir, orang yang pandai bersyukur adalah orang-orang yang sholat. Tidak hanya sekedar sholat melainkan dengan sholatnya itu timbul kesadaran akan banyaknya nikmat Allah, paling tidak nikmat umur, nikmat iman. Dengan timbulnya kesadaran itu ia mau menjadi orang yang ahli sodaqoh di saat sempit maupun lapang. Semua itu dilakukan sebagi bukti syukur atas banyaknya nikmat yang telah dikaruniakan Allah

Karena itu jadikanlah pegangan hadits rosul

اُنْظُرُوا الَى مَنْ هُوَ اَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلاَ تَنْظُرُوا اِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ اَجْدَرُ اَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Lihatlah kepada orang yang lebih bawah daripadamu, dan jangan melihat kepada orang yang lebih atas daripadamu, karena yang demikian lebih patut menyebabkan kamu tidak menganggap nikmat Allah atasmu.

Seringkali dalam hati kita timbul pertanyaan: “Kenapa orang-orang yang beriman hidupnya hanya pas-pasan saja bahkan banyak yang hidup serba kekurangan penuh dengan ujian dan cobaan, sedangkan orang yang tidak beriman malah hidup dalam kemewahan tanpa kekurangan”. Terkadang kita mengeluh, kita yang sudah rajin beribadah kenapa doa kita rasanya belum dikabulkan Allah, sementara disekitar kita orang-orang yang tidak beribadah malah mendapat rizki yang berlimpah. Jawabannya terdapat dalam Al Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 2

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Selanjutnya timbul pertanyaan dalam hati kita, mengapa justru orang yang beriman itu selalu diujii oleh Allah? Bila ditinjau secara akal jawabannya adalah ibarat orang yang ikut ujian adalah orang yang bersekolah atau menempuh suatu jenjang pendidikan. Bila tidak sekolah jelas tidak akan mengikuti ujian mereka bias bersenang-senang semaunya. Sebaliknya bagi yang sekolah, semakin tinggi tingkat jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin berat ujiannya.

Sama halnya dengan orang tidak beriman Allah membiarkan mereka bersenag-senang di dunia sedangkan bagi yang mukmin akan banyak ujian yang dialaminya. Semakin bertambah kuat imannya, semakin berat ujiannya. Semakin dekat dengan Allah semakin bertambah berat lagi ujiannya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw.

اِنَّ اَشَدَّ الْبَلاَءِ اْلاَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلاَوْلِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ اْلاَمْثَالُ فَاْلاَمْثَالُ اُبْتُلِيَ النَّاسُ عَلَى حَسْبِ دِيْنِهِ

Sesungguhnya ujian yang paling berat adalah ujian yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi, lalu para wali, kemudian para ulama’ kemudian kebawah-kebawah. Setiap orang diuji menurut keteguhan dan kekuatan berpegangan kepada agamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s