Orang Kaya dan Orang Miskin dilihat dari Sodaqohnya

Mari disaat anda membuka blog ini kita awali dengan pertanyaan pada diri sendiri. Apakah kita ini termasuk orang kaya, ataukah kita termasuk orang miskin? Lantas di mana batasnya orang dikatakan kaya? Berapa besar harta yang dimilikinya jika kita ingin disebut kaya? Ternyata sejak jaman Nabi Adam sampai sekarang tidak ada seorang pakarpun yang mampu mendefinisikan batasan harta sehingga seseorang disebut kaya. Qorun yang hartanya demikian luar biasa masih merasa belum kaya, sehingga enggan memberikan sebagian hartanya untuk yang lain. Para konglomerat yang hartanya jauh di atas kita masih berupaya memperkaya diri dengan menyalahgunakan harta rakyat.

Tidak usah jauh-jauh, pada diri kita sendiri saja, saat belum punya rumah kita berangan-angan punya rumah meski sederhana, saat sudah punya rumah kita ingin memperbaiki rumah dengan memasang keramik, ditingkat dan sebagainya. Saat belum punya kendaraan betapa bahagianya ketika punya sepeda motor meski ketinggalan jaman, tetapi saat punya sepeda motor kita masih ingin punya mobil agar tidak kehujanan. Saat punya mobilpun kita masih ingin mobil yang keluaran terbaru dan seterusnya. Intinya kita tidak pernah puas, jadi jika keadaannya demikian terus maka dapat disimpulkan bahwa kita belum pernah jadi orang kaya.

Kenapa kebanyakan manusia tidak pernah puas dengan keadaannya? Jawabnya adalah karena manusia memiliki sifat ”keluh kesah” sebagaimana firman Allah

إِنَّ اْلإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً ﴿﴾ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً ﴿﴾ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً ﴿﴾ إِلاَّ الْمُصَلِّينَ ﴿﴾ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ ﴿﴾ وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ ﴿﴾ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿﴾

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

Nampaknya sindiran Al-qur’an tersebut kepada kita sangat nyata, saat semua harga barang mahal kita mengeluh, saat ditimpa kesulitan kita mengeluh, saat punya banyak hutang kita mengeluh. Tapi anehnya kita tidak ingat bahwa sebenarnya jauh lebih lama kita menikmati harga barang yang murah, kita lupa kalau sebenarnya kita lebih lama senangnya daripada susahnya, kita juga lupa kalau sebenarnya kita pernah lebih lama menikmati tidak punya hutang.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang selamat dari sifat keluh kesah tersebut adalah orang yang langgeng sholatnya, sehingga tercermin dalam perilakunya yang bisa berbagi kesenangan dengan orang yang di bawahnya. Orang yang demikian itu adalah orang yang kaya dalam arti sebenarnya. Jadi ternyata bedanya orang kaya dan orang miskin hanya pada tangannya, orang kaya adalah orang yang tangannya selalu di atas yaitu suka memberi pada orang lain, orang miskin yaitu orang yang tangannya selalu di bawah, yaitu tidak suka memberi yang lain bahkan masih suka meminta pada yang lain.

Coba suatu saat rasakan, di saat kita bisa bersodaqoh maka saat itulah kita sedang kaya. Jadi orang kaya adalah orang yang tidak pernah terikat dengan hartanya, di saat agama membutuhkan di saat saudaranya membutuhkan maka ia tidak segan melepaskan hartanya. Dalam sejarah perjuangan rosul, sahabat yang paling kaya adalah Abu Bakar, bukan karena hartanya yang paling banyak, melainkan karena ketika rosulullah membutuhkan dana untuk perjuangan Islam Abu Bakar dengan serta merta menyerahkan semua hartanya. Beda dengan sahabat Umar, beliau membagi dua hartanya, separuh untuk perjuangan dan separuh untuk keluarganya. Lantas bagaimana dengan kita, kita termasuk orang kaya atau orang miskin? Jawabnya sederhana, berapa persen yang kita sodaqohkan dibanding harta yang kita miliki? semakin besar persentasenya maka kita semakin kaya.

Ingat orang yang tidak mau bersodaqoh, orang yang tidak mau berbagi kebahagiaan pada sesama, orang ini adalah orang yang kikir, sifat kikir sangat berbahaya. Sebagaimana ayat di muka, Allah telah berfirman dalam Surat Al-Lain ayat 8 – 11

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.

Dipertegas lagi dengan sabda Rosulullah saw.

أِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَأِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَالتَّقُوْا الشُّحَّ فَأِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ, حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوْا دِمَائَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ

Jagalah dirimu dari perbuatan aniaya, karena aniaya itu akan merupakan kegelapan di hari qiamat. Dan jagalah dirimu dari sifat kikir, karena sifat kikir itu membinasakan umat-umat sebelum kamu, mendorong mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan semua yang diharamkan oleh Allah

Dikisahkan pada zaman rosulullah ada sahabat bernama Tsa’labah Ibnu Hathib yang hidup dalam serba kekurangan. Meskipun hidupnya sangat kekurangan tapi dia rajin beribadah, dia sangat dekat dengan rosululllah. Suatu saat ia memohon pada rosul untuk didoakan agar dikaruniai harta dan rizqi yang banyak. Rosulullah bersabda “Sedikit tetapi engkau bersyukur lebih baik daripada banyak tapi engkau tidak dapat menguasai”. Tsa’labah belum puas dan memohon lagi dengan bersumpah: “Demi Allah, jika Allah memberi rizqi kepadaku akan kutunaikan zakat dan shodaqoh kepada yang berhak menerima”

Maka rosulullahpun berdoa, dan dikabulkan doanya sehingga peternakan Tsa’labah berkembang luar biasa hingga memenuhi kota. Akhirnya terpaksa Tsa’labah pindah ke luar kota mencari tempat yang lebih luas, hingga dia sudah tidak lagi berjamaah dengan rosulullah, bahkan akhirnya tidak sempat sholat Jum’at.

Ketika suatu saat para amil zakat diutus untuk menagih zakat para orang kaya termasuk Ts’labah, dia berkata: “Adakah ini penagian pajak atau serupa pajak, kembalilah engkau, aku piker-pikir dulu”. Setelah beberapa waktu datanglah Tsa’labah kepada rosulullah menyerahkan zakatnya tetapi ditolak oleh rosulullah dengan sabdanya: “Allah telah melarang aku menerimanya dari engkau dan ini adalah salahmu sendiri. Aku telah memerintahkan engkau tetapi engkau tidak mentaati”

Demikianlah sampai rosulullah wafat, Khalifah Abu Bakar juga tidak mau menerimanya, demikian pula kholifah yang lain. Akhirnya Tsa’labah terkatung-katung hingga meninggal di zaman Khalifah Ustman bin Affan. Naudzu billahi min Dzalik. Kesimpulan dari kisah ini, dengan harta yang banyak bukan jaminan bahwa kita mampu mengelolanya dan menjaganya. Bukan jaminan bila kita kaya mampu membantu perjuangan agama, maka agar selamat dari ujian harta sebaiknya sejak harta masih kecil, masih sedikit jangan segan-segan mengeluarkan sebagiannya untuk yang berhak menerima. Jika kita tunda sampai besar sampai banyak, maka kita bisa celaka karenanya, karena pada saat itulah bahasa sifat kikir akan muncul pada diri kita.

Gambaran sedrhana saat harta kita Rp1.000.000 maka ketika sodaqoh Rp25.000 tidak terasa berat karena masih kecil. Lain halnya jika harta kita sudah Rp1.000.000.000 maka ketika sodaqoh Rp25.000.000 akan terasa berat karena kelihatan besar, padahal sebenarnya Rp25.000 dan Rp25.000.000 adalah sama dalam arti sama-sama 2,5%. Dengan kata lain orang yang berharta Rp1.000.000 bisa lebih kaya dengan yang berharta Rp1.000.000.000 karena sodaqohnya.

Pernah seorang sahabat bertanya: “Ya Rosulallah, jika engkau telah keluar dari dunia (wafat) manakah yang lebih baik bagi kami, permukaan bumi atau perutnya?” dijawab oleh rosul dengan sabdanya: “Jika para pemimpin adalah orang yang terbaik diantaramu (dalam ketaqwaannya), para hartawan adalah orang-orang yang pemurah, dan semua urusanmu diselesaikan dengan musyawarah maka permukaan bumi lebih baik bagi kamu. Tetapi sebaliknya jika para para pemimpin adalah orang yang jahat, para hartawan orang yang kikir, dan urusanmu diserahkan pada wanita-wanitamu, maka perut bumi lebih baik bagi kamu”.

Demikian hinanya orang yang kikir di mata Allah dan rosulnya sehingga Allah lebih suka orang bodoh tapi pemurah daripada orang alim tapi kikir, padahal biasanya orang alim lebih disukai daripada orang bodoh. Sebagaimana sabda rosul

اَلْجَاهِلُ السَّخِيُّ اَحَبُّ اِلَى اللهِ مِنَ الْعَالِمِ الْبَخِيْلِ

Orang bodoh yang pemurah lebih dicintai Allah daripada orang alim yang kikir.

Dalam hadits lain rosulullah bersabda

اَلْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ, بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ, بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ, قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ

Orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat kepada neraka.

Tidak hanya itu, orang yang kikir setiap hari selalu didoakan celaka oleh malaikat, sebaliknya orang yang pemurah dodakan mendapat ganti oleh malaikat sebagaimana sabda rosul.

مَاطَلَعَتِ الشَّمْسُ اِلاَّ وَعَلَى جَنْبَيْهَا مَلَكَانِ يَقُوْلُ اَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ اَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ الآخَرُ: اَللَّهُمَّ اَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak terbit matahari melainkan telah ada dua orang malaikat di sebelah kanan dan kiri. Yang seorang menyeru “Ya Allah! Karuniailah ganti terhadap orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah” yang lain menyeru pula “Ya Allah! Datangkanlah kebinasaan terhadap orang yang menahan hartanya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s