ZAMAN AKHIR

Saat ini kita berada pada zaman akhir, yaitu zaman yang penuh penyelewengan dan penyimpangan atau lebih dikenal dengan istilah zaman edan. Kita tentu masih ingat pada era tahun 80-an masyarakat dicemaskan dengan adanya kenakalan remaja, mulai dari minuman keras, perzinaan bahkan kriminalitas. Sekarang setelah 20 tahun berlalu kita tidak lagi merasa aneh dengan kenakalan remaja, justru kita dicemaskan dengan meningkatnya kenakalan anak-anak. Kalau kita saksikan pada acara Patroli di televisi misalnya, anak-anak usia sekolah sudah mengenal narkoba bahkan jadi pengedar, sindikat pencurian kendaraan bermotor juga melibatkan anak-anak usia sekolah. Bahkan naudzubillahi min dzalik, ada kasus anak usia sekolah memperkosa gadis kecil, seorang anak membunuh orangtuanya dan masih banyak yang lain. Yang kita khawatirkan adalah bagaimana nasib bangsa kita 10 tahun atau 20 tahun yang akan datang, apalagi dengan era globalisasi ini diseluruh pelosok lapisan masyarakat baik di kota, di desa bahkan di pedalaman dapat menikmati perkembangan tekonologi baik yang positif maupun negatif. VCD porno sudah beredar di mana-mana bahkan anak-anak kecilpun sudah sering menontonnya. Narkoba sudah menjamur di seluruh lapisan masyarakat dan tindakan kekerasan sudah semakin meningkat.

Sebenarnya keadaan zaman yang penuh penyelewengan dan penyimpangan ini sudah digambarkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra. dalam sya’irnya

Kita sungguh berada di zaman penuh penyimpangan, zaman pengingkaran ni’mat. Yang baik dipandang buruk, orang dlolim tambah congkak. Tiada manfaat pengertian kita. Kita juga sering tidak tahu tentang kebodohan kita.

Menghadapi kenyataan ini umat Islam tidak boleh tinggal diam, kita tidak bisa melarang masuknya pengaruh kebudayaan asing, tetapi yang bisa kita lakukan adalah membentengi diri dan keluarga dengan bekal ketakwaan dan keimanan. Dan khusus mengenai anak-anak benteng yang paling bagus adalah lewat pendidikan yang bernuansa Islam, baik itu melalui pesantren, madrasah, atau minimal kita arahkan untuk mengaji di surau-surau, TPQ atau tempat pendidikan agama yang lain.

Maasyiral muslimin sidang jum’at yang sedang beri’tikaf di masjid ini.

Dalam surat At-Tahrim yang kami baca di muka kita diperintahkan memelihara diri dan keluarga dari api neraka

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Perintah pertama adalah pada diri kita sendiri, artinya sebelum kita mendidik anak dan keluarga maka kita harus mau belajar terlebih dahulu, minimal di bidang akhlak atau sopan santun kita harus bisa jadi teladan bagi keluarga. Apalagi jika dalam bidang ibadah kita bisa memberi contoh yang baik. Untuk itu sebagai orang tua kita jangan segan-segan untuk mengaji atau menimba ilmu terutama ilmu agama, tidak ada istilah terlambat dalam mencari ilmu. Selanjutnya barulah kita mengarahkan keluarga dan anak-anak ke pendidikan agama agar selamat dari siksa neraka.

Yang enjadi pertanyaan adalah kenapa akhir-akhir ini kenakalan anak-anak dan remaja semakin meningkat, bahkan anak yang dipondokkan di pesantrenpun tidak luput dari kenakalan. Jawabannya sederhana anak-anak zaman sekarang miskin teladan. Sekarang sudah jarang orangtua yang bisa menjadi contoh baik untuk anak-anaknya, sudah jarang guru yang bisa menjadi figure panutan bagi muridnya, sudah jarang pimpinan yang bisa diteladani rakyatnya. Akibatnya anak-anak kita meneladani budaya-budaya dari luar. Masih untung jika yang diidolakan adalah hal-hal yang positif semisal tokoh olahraga. Tetapi yang dihawatirkan adalah mereka mencontoh hal-hal yang negatif, semisal pakai tindik, kekerasan, perzinaan narkoba dan lain-lain.

Oleh karena itu tepatlah jika rosulullah diberi gelar uswatun hasanah sebab rosulullah dalam mendidik tidak hanya mengajar atau menyuruh melainkan juga memberi contoh yang baik.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Sebagai kesimpulan, menghadapi zaman yang penuh penyimpangan ini marilah kita berintrospeksi terhadap diri sendiri.

1.     Sudahkan kita bisa menjadi panutan bagi anak dan keluarga, atau bahkan bagi masyarakat.

2.    Sudahkah anak-anak kita kita bentengi dengan bekal iman dan akhlak untuk menghadapi tantangan zaman ini.

Jika sudah, marilah kita tingkatkan lagi. Jika belum marilah kita mulai sejak sekarang. Tidak ada kata terlambat. Untuk mengatasi krisis ekonomi, krisis social, krisis moral dan krisis multidimensi yang dialami bangsa Indonesia jalan yang paling tepat adalah melalui pendidikan baik di rumah, sekolah dan masyarakat. Jika generasi penerus dibekali dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi serta didasari dengan ilmu agama dan moral budi pekerti maka masa depan bangsa kita adalah masa depan yang cerah. Sebaliknya jika setiap warga masyarakat acuh terhadap keluarganya maka jangan harap negara kita akan lepas dari krisis ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s