UJIAN BAGI MUKMIN

Seringkali dalam hati kita timbul pertanyaan: “Kenapa orang-orang yang beriman hidupnya hanya pas-pasan saja bahkan banyak yang hidup serba kekurangan penuh dengan ujian dan cobaan, sedangkan orang yang tidak beriman malah hidup dalam kemewahan tanpa kekurangan.” Terkadang kita mengeluh, kita yang sudah rajin beribadah kenapa doa kita rasanya belum dikabulkan Allah, sementara disekitar kita orang-orang yang tidak beribadah malah mendapat rizki yang berlimpah.
Jawabannya terdapat dalam Al Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 2
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Selanjutnya timbul pertanyaan dalam hati kita, mengapa justru orang yang beriman itu selalu diujii oleh Allah? Bila ditinjau secara akal jawabannya adalah ibarat orang yang ikut ujian adalah orang yang bersekolah atau menempuh suatu jenjang pendidikan. Bila tidak sekolah jelas tidak akan mengikuti ujian. Semakin tinggi tingkat jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin berat ujiannya.
Sama halnya dengan orang mukmin. Semakin bertambah kuat imannya, semakin berat ujiannya. Semakin dekat dengan Allah semakin bertambah berat lagi ujiannya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah saw.
اِنَّ اَشَدَّ الْبَلاَءِ اْلاَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلاَوْلِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ اْلاَمْثَالُ فَاْلاَمْثَالُ اُبْتُلِيَ النَّاسُ عَلَى حَسْبِ دِيْنِهِ
Sesungguhnya ujian yang paling berat adalah ujian yang diberikan oleh Allah kepada para Nabi, lalu para wali, kemudian para ulama’ kemudian kebawah-kebawah. Setiap orang diuji menurut keteguhan dan kekuatan berpegangan kepada agamanya.
Saat ini dalam suasana Idul Adha kita masih ingat bagaimana ujian amat berat yang dialami Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimassalaam. Bahkan ujian yang dialami Nabi Muhammad saw jauh lebih berat lagi. Ketika beliau dilempari batu oleh orang-orang kafir dan malaikat menawarkan membalas mereka dengan gunung, rasulullah melarangnya bahkan membalasnya dengan doa
اَللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِى فَاِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنْ
Ya Allah berikanlah petunjuk pada umatku, sesunguhnya mereka tidak mengetahuinya.
Maasyiral muslimin rahimakumullah
Dalam hadits lain rosulllah bersabda
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا. وَاِذاَ اَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ اَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِىَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Anas ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Jika Allah berkehendak baik terhadap hambanya, maka dilaksanakan segera pembalasan siksanya di dunia, sebaliknya jika Allah menghendaki binasa terhadap hambanya, ditahanlah pembalasan dosanya, hingga akan dituntut kelak pada hari qiyamat .
Dikuatkan pula dengan sabda Rasulullah saw yang lain sebagai mana diriwayatkan oleh Tirmidzi :
قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَاِنَّ اللهَ تعََلَى اِذَا اَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
Nabi saw bersabda : sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah itu bila mencintai kaum, maka Allah mengujinya . Barang siapa yang ridlo, mendapat keridloan Allah, dan siapa murka, mendapat murka Allah .
Setelah memahami keterangan dan penjelasan dari hadits-hadits Rasulullah saw diatas, dapatlah diperoleh suatu gambaran bahwa untuk menjadi orang yang baik dan memperoleh kebahagiaan disisi Allah tidaklah mudah, tapi memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Karena dengan adanya ujian, cobaan dan tantangan atau godaan syaitan, akan terbukalah hatinya dan semakin tumbuh keyakinannya akan kebenaran janji-janji Allah . Selain itu, hilanglah prasangka buruknya terhadap Allah . Disamping tindakannya akan selalu berhati-hati .
Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw pernah menjelaskan tentang ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang dikehendaki pada kebaikan, seperti yang disabdakan oleh beliau dalam haditsnya sebagai berikut :
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا اَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَتَحَ لَهُ قُفْلَ قَلْبِهِ وَجَعَلَ فِيْهِ الْيَقِيْنَ وَالصِّدْقَ وَجَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا لِمَا سَلَكَ فِيْهِ وَجَعَلَ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s