IMAN

Sejak zaman Nabi Adam kita memiliki musuh yang paling besar yaitu syaitan. Padahal untuk mempertahankan diri dari godaan hawa nafsu syaitan dalam rangka memperkokoh jati diri sebagai muslim sungguh merupakan perjuangan yang berat dan sangat sulit mencapai keberhasilan tanpa campur tangan Allah dengan hidayah dan maunah-Nya. Apalagi pada zaman yang serba materialis yang seakan-akan harga manusia lebih rendah daripada benda, atau kita lebih mengenal dengan zaman edan.

Keadaan zaman yang penuh penyelewengan dan penyimpangan ini digambarkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra. Dalam sya’irnya:

أِنَّقَدْ صَبَحْنَافِى دَهْرٍ عُنُوْدٍ . وَزَمَانٍ كَنُوْدٍ يًعَدُّ فِيْهِ الْمُحْسِنُ مُسِيْئًا. وَيَزْدَادُ الظَّالِمُ فِيْهِ عُتُوًّا . لاَ يَنْفَعُ بِمَا عَلِمْنَا . وَلاَ نَسْأَلُ عَمَّا جَهِلْنَا .

Kita sungguh berada di zaman penuh penyimpangan, zaman pengingkaran ni’mat. Yang baik dipandang buruk, orang dlolim tambah congkak. Tiada manfaat pengertian kita. Kita juga sering tidak tahu tentang kebodohan kita.

Keadaan zaman edan ini tidak dapat dielakkan lagi dalam pentas kehidupan manusia, bahkan keberadaannya sudah nampak nyata di depan mata, namun keberadaannya kurang disadari oleh manusia. Inilah pertanda kebodohan kita dalam merespon keadaan di sekeliling kita. Sebagai contoh sederhana kalau di tahun 80-an masyarakat mulai khawatir dengan kenakalan remaja yang terus berkembang sampai sekarang. Justru di awal millennium kedua ini kenakalan sudah merajalela pada anak-anak. Coba tengok di sekeliling kita anak-anak usia sekolah dasar sudah mengenal rokok, VCD porno, narkoba bahkan ada beberapa kasus kriminal dan perkosaan yang pelakunya anak-anak. Naudzubillahi min dzalik.

Menghadapi kenyataan ini umat Islam haruslah membentengi diri dan keluarga dengan bekal ketakwaan dan keimanan. Dan khusus mengenai anak-anak benteng yang paling bagus adalah lewat pendidikan yang bernuansa Islam, baik itu melalu pesantren, madrasah, atau minimal kita arahkan untuk mengaji di surau-surau, TPQ atau tempat pendidikan agama yang lain.

Adapun orang yang ingin memiliki keimanan yang kuat dan mantap harus memenuhi syarat sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ اَخْلَصَ قَلْبَهُ لِْلاِيْمَانِ وَجَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيْمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَنَفْسَهُ مُطْمَئِنَّةً وَخَلِيْقَتَهُ مُسْتَقِيْمَةً وَجَعَلَ اُذُنَهُ مُسْتَمِعَةً وَعَيْنَهُ نَاظِرَةً بِالْعِبْرَةِ

Sungguh bahagia orang yang ikhlas hatinya karena iman, hatinya selamat (dari siksa tercela), ucapnya benar, jiwanya tenang, akhlaknya jujur, telinganya (mau) mendengarkan (nasihat orang lain) dan matanya mau memandang berbagai ibarat. (HR Ahmad dan Baihaqy)

Yang menjadi pertanyaan pada diri kita apakah kita termasuk orang yang memenuhi syarat seperti di atas?. Sudahkah hati kita ikhlas karena iman?. Sudahkah hati kita selamat dari siksa tercela?. Apakah kita termasuk orang yang ucapannya benar? Apakah kita termasuk orang yang akhlaknya jujur?. Maukah telinga kita mendengarkan nasihat orang lain? Dan sudahkah mata kita mampu memandang berbagai ibarat?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya diri kita yang bias menjawabnya. Apabila kita sudah benar-benar memenuhi syarat seperti tersebut di atas maka kita berarti telah memiliki kualitas iman yang mantap sebagaimanan diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 27

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

Lewat mimbar jum’at ini kami mengajak diri kami sendiri dan segenap jamaah marilah kita senantiasa berupanya meningkatkan kualitas keimanan kita agar kita benar benar selamat dari godaan syaitan dan akhirnya kita mendapatkan ridlo dari Allah sehingga kita selamat di dunia dan di akhirat.

Yang paling penting lagi adalah dengan mengukur kualitas keimanan kita saat ini tentunya kita sadar sebagai manausia kita masih jauh dari kesempurnaan. Diakui atau tidak kita semua banyak melakukan suatu kesalahan atau kehilafan. Sebagai contoh syarat ucapannya benar dalam hadits di atas sudah sulit dilakukan manusia. Kalau boleh menghitung mungkin diantara seribu orang belum tentu ada satu orang yang selalu menjaga ucapannya selalu benar. Kita mengaku atau tidak, pasti kita pernah mengucapkan ucapan yang tidak benar. Oleh karena itu kita harus sadar bahwa kita pasti pernah bahkan sering melakukan kesalahan dan kekhilafan.

Bila dalam sanubari kita disinari oleh keimanan maka tentunya dengan melakukan kesalahan dan kekhilafan akan timbul penyesalan, yang pada akhirnya kita beristighfar memohon ampun kepada Allah. Selanjutnya kita mau bertaubat.

Namun sebaliknya bila setelah melakukan kesalahan dan kekhilafan kita tidak pernah menyesal, maka hal ini menandakan hati kita telah mati atau kosong dari sinar keimanan. Sebagaimanan dikatakan oleh Syekh Ibnu Atho’illah As Sakandary

مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ ‘ضدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافِقَاتِ وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلاَتِ

Diantara tanda-tanda matinya hati adalah tiada merasa susah terhadap sesuatu terlepas dari kebenaran, dan tiada menyesal terhadap kekeliruan yang diperbuatnya.

Kesimpulannya, marilah kita berupaya meningkatkan kualitas iman dengan jalan berusaha memnuhi syarat iman sebagaimana sabda rosulullah yang meliputi

  1. ikhlas hatinya karena iman,
  2. hatinya selamat (dari siksa tercela),
  3. ucapnya benar,
  4. jiwanya tenang,
  5. akhlaknya jujur,
  6. telinganya (mau) mendengarkan (nasihat orang lain) dan
  7. matanya mau memandang berbagai ibarat.

Apabila kita belum mampu mencapai keseluruhannya, paling tidak secara bertahap kita berupanya menambah dan memperbaikinya. Yang paling penting adalah jangan sampai hati kita mati yaitu tidak menyesal terhadap kesalahan yang kita perbuat. Sebab bila hati kita mati kita akan terjerumus kepada mati dengan tanpa iman, naudzu bilhi min dzalik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s