MENCAPAI DUNIA AKHIRAT

Tidak terasa sudah kita sudah melewatkan usia kita selama puluhan tahun. Tidak terasa, tahun baru hijriyah yang baru kita peringati sudah berlangsung selama lebih dari sebulan. Tidak terasa sudah bahwa peristiwa hijrahnya rosulullah sudah berlalu selama 1426 tahun. Padahal di saat rosulullah masih hidup beliau pernah mengibaratkan bumi sebagai orang tua renta lantas saat ini sudah setua apa bumi ini? Padahal yang kita perbuat untuk bekal menuju alam akhirat belum seberapa.
Menurut Imam Hasan al Bisri hakikat hidup ini hanyalah 3 hari. Sebagaimana ucapan beliau
Bahwa dunia itu jika kamu pikir di dalamnya hanya tiga hari
1. Hari yang telah lewat, engkau tidak dapat mengharapkannya (istighfar)
2. Hari yang kamu hadapi saat ini, sepantasnya kamu mengambil manfaaatnya (ikhtiar)
3. Hari yang akan datang di mana kamu tidak mengerti apakah kamu termasuk penghuninya atau tidak (niat)
Jika kita mampu mengambil manfaat dari apa yang diucapkan oleh Imam Hasan al Bisri tentunya kita tidak akan menyia-nyiakan umur kita hanya untuk meraih kebahagiaan di dunia semata melainkan kita sisihkan waktu untuk meraih kebahagiaan di akhirat.
Dalam hal ini Imam Ghazali menggolongkan manusia menjadi 4 bagian.
1. Celaka dunia akhirat
Coba kita amati sekeliling kita, banyak bangsa kita yang hidup dalam keadaan sangat kekurangan, tempat tinggal tidak menentu, terkadang di kolong jembatan, terkadang di sembarang tempat. Itupun kadang mereka harus di gusur, dikejar-kejar aparat, dan masih banyak penderitaan lain. Yang lebih memprihatinkan mereka tidak memiliki kemauan untuk memikirkan kehidupan akhirat, mereka berangan-angan kaya dengan main judi togel, atau bekerja siang malam tanpa lelah tanpa menyisakan waktu untuk akhirat.
Alangkah nestapa hidup mereka, di dunia mereka tidak beruntung dan nantipun di akhirat mereka akan disiksa.
2. Beruntung di dunia celaka di akhirat
Coba kita amati di sekeliling kita, saat ini banyak orang yang terjerumus dalam keadaan kedua. Hidup mereka di dunia dipenuhi dengan kesenangan, bergelimangnya harta benda, derajat dan pangkat yang mulia di hadapan manusia, dan masih banyak lagi kebahagiaan semu yang mereka nikmati di dunia, tetapi sayang tidak ada sedikitpun usaha membekali diri untuk menyongsong hidup yang lebih kekal di akhirat.
Orang seperti ini sudah digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 200
Maka di antara manusia, ada orang yang berdoa ”Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tidaklah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Melihat kenyataan ini kita tidak perlu cemburu, tidak perlu iri, tidak perlu protes dengan melimpahnya harta yang diberikan pada Allah kepada mereka (orang kaya yang ingkar), sedangkan kebanyakan kita umat Islam justru hidup sederhana atau bahkan kekurangan. Saat ini mereka sedang dimanja (dalam bahasa jawa dilulu) dengan harta tetapi nanti hisab mereka sangat berat.

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menta’ati) Allah.
3. Celaka di dunia dan beruntung di akhirat
Golongan ini adalah golongan orang-orang yang berani mengorbankan dirinya untuk semata-mata mencari ridlo Allah. Hidupnya dan harta bendanya dikorbankan demi semata-mata menggapai ridlo Allah. Ingat ketika
rosulullah akan berperang dan membutuhkan dana, dengan serta merta Abu Bakar as Siddiq menyerahkan seluruh harta bendanya, beliau tidak berpikir bagaimana kehidupan selanjutnya dijalani tanpa harta benda karena beliau amat yaqin bahwa ridlo Allah lebih penting dari segalanya. Memang derajat ini hanya mampu dimiliki oleh para nabi, para shohabat, para wali dan para ulama’.
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
4. Beruntung dunia akhirat.
Bagi kita umat muslim golongan orang awam, maksudnya orang Islam yang antara amal baiknya sedikit dibandingkan maksiatnya, maka posisi kita masuk pada golongan ini, yaitu orang yang memikirkan akhirat tetapi juga tidak melupakan urusan dunia. Dalam hal ini Rosulullah bersabda
Bukan yang terbaik diantara kalian orang yang meninggalkan dunianya hanya untuk kepentingan akhirat; dan sebaliknya bukan yang terbaik orang yang meninggalkan akhiratnya lalu hanya sibuk mengurusi dunia saja, sehingga ia dapat mendapat keduanya (dunia dan akhirat). Sebab dunia itu penyampai ke akhirat. Dan janganlah kalian menjadi beban manusia.
Dalam hadits lain rosulullah bersabda:
Sebaik-baik kendaraan adalah dunia, maka naikilah kendaraanmu itu niscaya dia mengantarkanmu ke akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s